Kamis, 06 Desember 2007

"Feed The Fire"

Words and music by John Kay and Michael Wilk

You're off to see the land of dreams
Be careful, things are seldom what they seem
Cling to your hopes and follow your heart
Don't lose that sparkle in your eyes
To some empty consolation prize
Stay on your course, follow the chart
And if at times you lose the light
Then let your passion be your guide

Strike a spark, fan the flame, feel it burn deep within
Let it rise and let it shine
Keep it burning day and night, guard it with your very life
Feed the fire, never let it die

You'll fly alone to reach your mark
Don't fear the silence or the dark
They'll be good friends you'll learn to love
Solitude's no sacrifice
To catch a glimpse of paradise
May you find peace and fly with the dove
And when you finally reach your star
Always remember who you are

Strike a spark, fan the flame, feel it burn deep within
Let it rise and let it shine
Keep it burning day and night, guard it with your very life
Feed the fire, never let it die
Feed the fire, never let it die

Sabtu, 10 November 2007

Impian dan Musim yang Berganti

September 2005, aku menerima telepon dari IIEF Jakarta, yang mengabarkan bahwa aku adalah satu satu dari puluhan orang yang mendapat kesempatan beasiswa. Dari lebih dari empatpuluh ribu orang hanya tiga puluh lima yang terpilih dan aku satu diantaranya. Bangga sekaligus tak bisa dipercaya. Aku berteriak kegirangan. Berlari dari tiap rumah kerumah di kampoeng Percik, lalu kekabarkan berita bahagian ini ke suamiku, dan orangtuaku. Kebahagiaan yang membuncah. Disitulah aku merasakan kebahagiaan yang sementara.

Hari mulai berganti, begitu juga dengan kehidupanku. Aku mulai sering meninggalkan anakku. semula hanya seminggu sekali. September hingga April 2006, aku pulang pergi Jakarta Solo. Berbagi antara impian dan kebahagiaan sebagai seorang ibu. Anakku terkasih, mulai mengerti arti hidup tanpa Bunda. Kereta api eksekutif, bisnis, hingga ekonomi adalah temen baikku setiap Jumat malam dan Minggu malam. Sepanjang waktu itu, hanya target nilai yang ada dalam benakku, berkejaran dengan waktu menikmati hari bersama anakku.

Lalu tiba-tiba kehidupanku disadarkan ketika Bapakku terkasih meninggalkanku selama-lamanya dengan satu impian yang tertinggal "melihatku memasak". Disini arti "mimpi"mulai kupertanyakan. Ada kesadaran baru bahwa hidupku tak murni hanya untuk mengejar mimpi, bahwa ada Sekarku sayang, bahwa ada orang tua tercinta. Namun kesadaranku tak sepenuhnya terrajut. Kepergiannya tak mengubah mimpiku. Bahkan aku melanggar keinginan terakhirnya "melihat sekolah di Indonesia, tidak di negeri Belanda".

14 April 2006, Malaysia airline menerbangkanku jauh dari Sekarku. Di Cengkareng, isak tangis tak terbendung, Ibuku, bapak mertua, ibu mertua, suami dan anak perempuanku mengantarku terbang mengejar mimpiku. Namun pilihan itu tak mungkin digugurkan. Aku harus berangkat. Lalu di Kuala Lumpur, hatiku beku.

16 April 2006, diawal musim summer, meski matahari bersinar cerah, Belanda tetap dingin bagi orang tropik macam aku. Tiga bulan pertama, tangis adalah keseharianku, Berat badanku turun drastis. Dan akupun mulai menerawang mempertanyakan mimpiku. Di Maastricth berangkat pagi pulang sore belajar bahasa inggris, mulai membuatku lelah dan terseok. Target nilai adalah konsekuensi atas realita mimpi sekolahku. Namun sejatinya impian berkumpul dengan suami dan Sekarku disini adalah impian utamaku. Target nilai kujalani dengan seadanya. Tapi toh akhirnya aku berhasil juga diterima di Vrije University Amsterdam, meski terseok-seok.

17 Agustus, diakhir musim summer, aku mulai berkutat dengan buku-buku anthropology. Disepanjang waktu itu, impian berkumpul dengan anak dan suamiku disini mulai terkikis oleh berragam kesulitan. Semua jalan yang semua terlihat terang, kembali redup, bahkan akhirnya menjauh.

Summer mulai berlalu, diganti musim gugur yang dingin dan unpredictable. terkadang hujan, terkadang matahari bersinar cerah, namun tiba-tiba datang hujan es (healing). Tubuhku mulai mengerti artinya bertahan dan beradaptasi dari cuaca yang tak menentu ini. Sementara mimpiku menjadi seorang anthropolog, tetap kukejar tertatih-tatih dengan bertumpuk buku-buku teori. Anakkupun, mulai membaca situasi. Dia mulai mengerti pergantian musim. Dimana sang Bunda, hanya bisa dijumpai lewat suara, tanpa pelukan. Suamiku, yang semula mendukungku dengan suara bulat, mulai mengerti konsekuensi atas dukungannya. dan iapun mulai sibuk dengan impian barunya.

Ya..musim memang sudah berlalu... menyadarkanku untuk mengerti dimana sejatinya letak mimpiku.

(amstelveen, 15.06)

Pesan Buat Matahari Kecilku

Sayang...hari ini kegelisahanku kembali membayangiku. Memikirkan kehidupanmu tanpaku. Tapi semestinya itu tidak kulakukan karena engkau adalah titipanNya. Ada yang lebih berhak dariku. Dia adalah Tuhan.

Matahari kecilku, lelaplah tidur nak. Esok engkau akan kembali menyinari kehidupanku. Mungkin kau mulai lelah menunggu kedatanganku, tapi dengarlah suara hatimu, bahwa aku dekat denganmu. Sangat dekat, tak berjarak.

Berkatalah dengan hati kita sayang. Lalu buang kerisauanmu, dan jangan takut melangkah karena engkau dijaga Sang Hidup. KepadaNyalah kutitipkan engkau. Bermainlah esok sayang, dan yakinlah cintaNya lebih agung dan mulia dari sekedar cintaku disini.

Sayang...kau adalah matahari kecilku...dan akan selalu begitu. Engkau memberiku semangat untuk terus mendekatimu. Jadi jangan risau sayang, itu adalah hukum alam, dimana aku terikat erat dalam kehidupanmu.

Kepada Sang Maha Penjaga,
Atas nama kemahaanMu, kuserahkan matahari kecilku. Diatas kesadaran posessif kemanusiaanku, kutitipkan ia padaMu.
Disini sesungguhnya kusadar ketidakmampuanku. Aku yang naif dan merasa memiliki hidup atas matahari kecilku. Namun sekarang kemahaanMu menyadarkanku.

Kepada Sang Maha Pelindung
Setelah kutitipkan matahari kecilku. Lindungi dan Jagalah dia seperti kau lindungi dan kau jaga kekasihMu. Dan ijinkan aku kembali memeluk matahari kecilku suatu hari nanti.


(amstelveen, Amsterdam, 14.19)

Selasa, 06 November 2007

Mothers feeling

Untuk semua,
Terima kasih atas semua dukungan, do'a, support yang sudah kalian berikan. Cobaan ini terlalu berat, aku seperti menyaksikan kematianku sendiri, terbang beribu mil jauhnya, hanya untuk menyaksikan tubuh mungil yang di balut kain putih dalam waktu hanya 5 menit, karena dia harus dikuburkan, dia lelah menunggu kedatanganku yang berjam2.
Ya Allah, aku belum mampu memaknai apa yang kau berikan untukku saat ini. Andai waktu bisa kembali, tapi waktu memang tidak akan pernah bisa kembali. terima kasih untuk seluruh yang sudah kalian berikan.
Mar
sebuah email yang dikirim oleh kawanku telah membuka hariku di amstelveen (7/11/07). Email itu dia forward ke email pribadiku. Membuat seluruh tulang penyangga tubuhku luruh, dilorot satu persatu. Tak bisa mendukung tubuhku untuk berdiri. Sementara akalku, melayang ke belahan bumi lain di Indo, dimana anak perempuanku tertidur bersama ayah tercinta. Silih berganti dengan bayang kematian yang ditulis oleh sahabat saya, Mar.
Sebagai seorang bunda, hatiku menjadi beku melihat keterpisahanku bersama anakku hanya karena mimpi. "Bull shit about mimpi !! Ratapku keras dalam hati. Anak adalah jiwa buat bunda. Bagaimana mungkin dia tergantikan oleh impian duniawi yang sementara.
"kamu tahu yan.." hatiku berkata, "änak adalah hakiket hidup seorang Ibu. Benar...bahwa Ibu pernah menjadi "media" hidup bagi seorang anak selama sembilan bulan. Tapi anak memberi kehidupan lebih lama buat kita. Dia akan hidup terus dalam hati kita. Karena dia lebih dekat dengan kesucian Tuhan.

Kamis, 01 November 2007

I live My Life for You by Firehouse

This song I dedicated to my Soul Mate

You know you're everything to me and I could never see
The two of us apart
And you know I give myself to you and no matter what you do
I promise you my heart
I've built my world around you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before

I live my life for you
I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you

I dedicate my life to you, you know that I would die for you
But our love would last forever
And I will always be with you and there is nothing we can't do
As long as we're together
I just can't live without you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before

I live my life for you I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you

I've built my world around you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before
I live my life for you

I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you

Sabtu, 27 Oktober 2007

Berteman dengan Kematian

kutulis puisi kematian...tetapi Tuhan tak mengijinkan aku mengirimkan kabar kematian. Karena pada saat kumemberitakannya, dia lenyap ditelan kebodohan.

Uh...rasanya mempat duniaku, diujung ketidak ada harapan. Dan mungkin aku harus mencari dunia lain yang menawarkan kehidupan yang lain, yang tak menindas keberadaanku.

Rasanya mudah sekali membunuhku...jika kau mau kaupun bisa melakukannya. Pupuslah harapanku... maka aku akan mati.
Dan sekarang tak ada lagi harapan dikehidupanku.

Apa lagi yang diharapkan oleh Bunda yang kesepian yang tak lagi ada harapan.

Minggu, 14 Oktober 2007

Pearls of Wisdom from Mawlana

poem by Mavlana Jalaludin Balkhi (Rumi) Tajik

Come, come no matter you are
with you are a polytheist, fire-worship or idolater
our dervish convent is not the assembly of hopelessness
come, even though you are broken
you repentance one hundred time

the one who seeks perfect is alone in the end
one candle loses nothing if its light, kindling another
supplication and worship is to be with Allah
For someone who is with Allah
Death is pleasant as life

the idea is that which opens a path
the paths is that which leads to the truth
that the rose endured thorns has made it smell nice

Act like the sun in love and compassion
Act like a river friendship and fraternity
Act like the night in covering the faults of others
Act like the soil in humility and selflessness
Act like the dead one on anger and fury
Act in accordance like the way you act

whoever has beauty must know that it is borrowed
what is benefit of gold?
What is the meaning of soul?
What are the pearl and coral worth?
unless they are spent fort he sake of love and sacrificed to a sweet heart

Supplication and worship is to be with Allah
For someone who is with Allah
death is pleasant as a life

You may reach the highest station
yet the fear of losing it will kill you
how beautiful it is to migrate a way from a former land everyday!
how lovely it is to perch on a different branch everyday!
how nice it is to keep flowing uncontaminated, unfrozen!

Alls the word of yesterday vanished with the passing day
O.... my soul
Now time to tell something new a fresh

Kamis, 20 September 2007

Unbelievable....

Katanya disini orang tak percaya lagi ruh halus. Tapi faktanya... malam ini Tante, mengundang pendeta, beberapa jemaat dan anak laki-laki serta istrinya, datang melakukan ritual kecil pengusiran roh.

Sejak sore hari, aku merasa malam ini pasti ketenanganku akan terganggu, sehingga feelingku mengatakan, lebih baik jika aku keluar rumah. Tapi rencana itu tak berhasil. Aku tak punya tujuan. Jadi terpaksa aku berdiam diri di kamar kecilku.

Sejak kemarin, Tante sudah menyiapkan makanan buat tamu-tamunya. Sup buntut sudah dia rebus sejak kemarin. Kata tante, dia mau mengadakan pesta perkawinan untuk anak laki-lakinya. Tetapi beberapa keanehan mulai terasa olehku. Tante yang biasanya ngajak aku makan malam bareng, eh tiba-tiba mau mengadakan pesta, kok aku gak diundang. Terus anehnya lagi, putri bungsunya, juga tak ikut dalam acara ini, meski disore hari dia datang menjenguk sang mama.

Nah keanehan itu sedikit terjawab ketika di sore hari, Tante mengajakku omong tentang ruh, hantu dan berbagai pengalaman yang menurut dia aneh. Kemudian dengan halus dia mengatakan nanti malam akan ada doa untuk membersihkan hantu/ruh yang dipimpin seorang pendeta Indonesia. Tante bilang, mungkin karena rumah ini belum pernah diselamatkan, didoakan sejak pertama kali ia tinggal disini. Dia juga bertutur tentang sejarah rumah ini, yang dahulunya dihuni oleh orang Maroko, yang juga terkenal sebagai dukun. Ups...!

Hari menjelang malam, selepas aku berbuka puasa. Terdengar bel rumah dipencet tiga kali. Itu tandanya anaknya datang, kali ini ia datang bersama rombongan gereja. Sekedar info saja, tante dan anaknya adalah jemaat gereja evangelical yang berpusat di Amerika. Gereja ini sejak seratus tahun lalu, aktif mengadakan misionaris ke berbagai komunitas termasuk komunitas Kristen yang berbeda dominasi d Belanda. Dalam ibadahnya, gereja ini selalu menekankan keberadaan surga, neraka, devil dan enemy. Dan menurut paham mereka, hanya merekalah, yang masuk surga.

Sekitar satu jam pertama aku hanya berdiam diri di kamar, sementara mereka melakukan pembicaraan di ruang tamu. Hampir tanpa gangguan, kuteruskan aktifitas membacaku. Namun beberapa jam kemudian, tante Lineke mengundangku untuk bergabung. Demi menghormatinya, aku mengikuti dibelakangnya, bertemu dengan para tamu-tamunya. Disana aku langsung disambut oleh pendeta yang secara terus terang mengatakan tujuannya datang di rumah ini mengusir roh, karena tante sering diganggu, sekalian meminta ijin untuk memasuki kamarku. Membersihkan ruh dikamarku pula. Ups….! Apa boleh buat. Aku bilang saja, “ya silahkan, tapi kamarku berantakan lho…”

Sesaat kemudian aku dipersilahkan kembali kekamar. Langsung kuambil air wudlu untuk sholat magrib, karena memang aku belum sholat magrib. Sementara mereka, kembali melanjutkan pembicaraan dan melakukan doa per ruangan. Kata sang pendeta, dia akan mengetuk kamarku jika telah tiba gilirannya. Sesaat kemudian aku dengar mereka mulai berdoa, memanggil nama Jesus, menyanyikan haleluya, setengah berteriak. Sesekali mereka mengusir ruh. Pergi…pergi…. Aku mulai terganggu dengan suara mereka. Lalu kuambil laptopku dan kualunkan ayat suci alquran menggunakan head setku, menguatkan iman. Aku mulai terhanyut dengan lantunan ayat suci al quran. Aman dan damai.

Nah setelah beberapa ruangan didoakan yang dipimpin secara bergilir oleh jemaat. Tiba giliran kamarku. Kali ini agak istimewa. Sang pendeta sendiri yang memimpinnya. Sementara aku keluar kamar dan berdiri mengamati mereka. Sang pendetapun berdoa, dan doanyapun kali ini berbeda dengan doa yang dia panjatkan dibeberapa ruangan yang lain. Dimulai dengan menjejakkan kaki ketanah tiga kali, dia mulai berdoa dan bilang ”semua ruh yang didoakan bukan atas nama Jesus, pergi, kami ikat, juga kepercayaan lain selain Jesus atas nama agamawi lain, hinduism, budhism, islam. …..Giliran agamaku disebut, aku mulai sensi, tapi atas nama toleransi aku diam saja. Sambil tetap mengamati mereka. Sementara dalam hatiku, kusebut namamu Ya Allah.

Dititik ini, aku sungguh tak mengerti, bagaimana mungkin manusia terkotak atas nama agama. Sejak seminggu yang lalu, aku mulai mempertanyakan institusi ini. Diskusi dengan beberapa kawan, dan mengikuti kuliah anthropology agama, menawarkan pemikiran lain tentang term “religion”. Menurut Lambek, 2007, Religion sangat susah didefinisikan. Lambeks sendiri tidak bersedia mendefinikan agama, karena mendifiniskan agama juga berarti memaknai ketidakjelasan (definition is by no means obvious). Sementara beberapa anthropologist berusaha mendifinisikannya, misal Taylor’s menyebut agama sebagai “belief in supernatural beings”, meski pada akhirnya definisi ini juga membuahkan perdebatan panjang mengenai makna belief, supernatural dan beings yang dianggap kurang jelas. Sementara Durkheim, sociologist Perancis, keturunan Jews, menyebut agama sebagai bagian dari structure, relative to sacred things. Yang menarik lagi, kelompok yang menganggap religion sebagai symbol of meaning. Di kelompok ini ada Geertz, Rappaport, Bloch and Asad.
Kurasa sederet teory semacam ini hampir-hampir tak bisa menyelesaikan masalah riil. Keterpecahan agama-agama. Bisa jadi karena agama sudah terlanjur diinstituasikan, sehingga agama lebih mudah terkotak. Ini dia kata anthopolog Melford Spiro’s. Dia menyebut agama sebagai institusi yang disusun oleh interaksi budaya dengan prinsip dasar superhuman (Lambek, 2007). Jadi kalau begitu akibat institusi yang dibentuk atas nama budaya ini, maka kita hidup dalam segregated pluralisme.

Waduh kok jadi serius gini nih nulisnya…. Ok kembali keinti persoalan. Bagiku jika atas nama institusi agama, orang merasa bahwa heaven hanya milik kelompoknya, aku membayangkan di surga pasti sepi banget. Yang kita temukan di surga ya hanya kelompok kita saja. Gak ada temen diskusi, gak ada temen yang mengajarkan toleransi pada kita. Uh...betul gak ya...? Wah ..jauh banget...mending mikirin dunia dulu gih...
Ok..kalau aku sih hanya bisa berharap, hidup kita di dunia ini damai, kita bersedia berbagai dunia dengan orang lain, termasuk bagi mereka yang beda agama sama kita. Kalau memang temen, saudara kita punya kepercayaan lain, termasuk sama ruh..biarin saja toh, selama gak gangguin kita.
Jangan sampai deh kita terjebak kotak term religion. Jika betul term religion muncul akibat pikiran para anthropologist (scientific word), buat apa kita ikutan bersitegang dengan saudara sendiri, biar para anthropologist yang saling mendebat teory mereka. Mending kita berbuat baik bagi semua orang.
(fideolelaan, 12.05, 19 September 2007)

Rabu, 19 September 2007

Strippenkart..antara hemat dan dosa

Aku segera melipat kartu sptippenkart yang baru saja kubeli di KIOSK kampus VU, 6.8 euro (Rp.80.000). “Ini tambahan pos pengeluaran, sejak aku pindah ke Amsterdam”, kataku berhitung. “Sejak bolak-balik ke Amsterdam dan pada akhirnya mesti sekolah di VU, biaya transportasiku ternyata membengkak”, keluhku, “sementara uang beasiswaku gak naek”, lanjutku.

Bayangkan uang 6,8 euro, yang harusnya bisa menambah jatah penggemukan badan, harus kurelakan untuk membeli strippenkart. Bagiku kertas panjang ini menjadi bagian sejarah kelam yang menggelikan selama aku studi di Amsterdam. Wow...hi..hi..hi....:).

Iya nih...jujur...strippenkart bagiku adalah kartu pengaman, kartu kewaspadaan ketika aku naek bis/tram selama kuliah menuntut ilmu. Meski setiap hari aku menggunakan bis/tram, tapi aku jarang banget mensegel strippenkartku, artinya aku jarang bayar. Kata temen Belanda, ini dikategorikan Black driving. Terkadang aku membayar tapi tak sesuai dengan zone perjalananku. Agak-agak korupsi gitu deh. Nah yang beginian sama temenku disebut Grey Driving. Oleh karenanya, sebagai kartu pengaman. Jika suatu saat Controler dateng, aku siap dengan kartuku. Jadi tak kubiarkan, strippenkartku habis dan tertinggal. Setiap kali kartu ini habis, aku tetap membeli kartu ini, meski setengah hati.

Menurut aturan umum, 15 strippenkart yang kubeli 6,8 euro ini hanya bisa dipakai untuk perjalanan selama 4 kali PP dari kampusku ke dormitoryku. Tapi bagiku, kartu ini bisa kupakai lebih lama lagi, minimal 7 hari. Sejujurnya, aku jarang membayar bis/tram. Jikapun bayar aku hanya pasang satu strippenkart. Hi..hi..nakal juga ya...? Kupikir apa yang kulakukan ini juga banyak dilakukan oleh beberapa penumpang lain. Gak percaya... coba saja buktikan dan amati, jika anda berkesempatan datang kesini, namun jika tidak sempat, boleh saja ikuti hasil pengamatanku ini.

Ini dia hasil pengamatanku sejak dua minggu lalu. Ternyata banyak para penumpang yang tidak membayar bus/tram. Meski kuakui, bagi para penumpang yang gak bayar, ada kemungkinan lain yang terjadi seperti karena mereka memakai kartu langganan yang dibayar satu bulan di depan. Dan ternyata, kesadaran membayar bis/tram terjadi pada kelompok usia uzur. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tua.

Sebenarnya, system transportasi di Amsterdam ini bagus karena mengajarkan pada para penumpang untuk sadar diri. Gak perlu ada kondektur yang suka teriak-teriak minta uang pada penumpang. Kalau mau naik bis atau tram, cukup beli strippenkart dan segel strippenkartnya sesuai zone tujuan. Beres!.

Tapi kenyataannya tujuan baik ini, tetap saja disalahartikan oleh penumpang-penumpang nakal macem saya ini. Kalau saya pribadi menyebut tindakanku sebagai tantangan kewaspadaan. Sepanjang perjalanan bis/tram saya mesti berjaga-jaga jika tiba-tiba sang petugas datang. Karena jika penumpang-penumpang nakal ini lagi apes, ketahuan petugas pemeriksa, maka kita akan kena denda sejumlah 30 euro. Wuih sayang juga kan....?
Jadi doain saya selamat dan diampuni dosa saya, sampai pada akhirnya saya mendapat ilmu yang diridloi. Amien.


(Fideolilaan 562, Amstelveen)

Rabu, 12 September 2007

Aku menjadi Aku

Disini jam 20.28 pm,
Di Amstelven ini, matahari mulai beranjak surut,
Namun tidak untuk belahan bumi yang lain,
Matahari masih akan setia melintasi jalannya
Tak henti dan tak lelah.
Dia tetap menjadi dirinya,
Meski dia tahu, sisi bumi yang lain menjadi gelap setelah ditinggalkannya

Pohon-pohon bergerak perlahan
Mengikuti irama puisi Sapardi yang telah diubah menjadi lantunan musik indah
Di balik tirai ini kupahami kesendirianku
Menghayati perjalananku di titik ini

Lalu kumengeluh tajam...
Bagaimana bisa kucinta kotamu
Jika dari awal kutemui ketidaksesuaian
Bagaimana kudamai disini
Jika dari awal kutemui ketidakdamaian

Melebur laksana curahan besi
Atau membakar besi menjadi curahan..

Kurasa ini bukan pilihan buat aku...
Karena kumau aku tetap disini,
sampai akhirnya aku harus pergi..
Kuingin aku menjadi aku, kataku lirih berbisik pada angin


(sudut kamar Fideolelaan, lantai 8, 19 agustus 2007)

Belas Kasih....dan Kemahaan Kasih

18 Agustus 2007, kumulai hidupku di belantara indivualist di kota supermetropolitan, Amsterdam. Gedung-gedung modern dengan arsitek nyleneh, tram dan metro, jalur-jalur sepeda dan sungai-sungai membelah kota, menjadi ciri tersendiri. Memberi harapan baru, sekaligus keputusasaan.

Jam 15. 45, kuturunkan barang-barangku dari taksi yang mengantarku dari Maastricth, kota yang menawarkan kedamaian dan persaudaraan dinegeri orang. Di sini, di Amsterdam semua berubah. Tak kurang seperempat jam dari saat aku menjejakkan kaki di jalan theophilastraat, kutemui sisi indivualist kota ini.

Sejenak setelah kuturunkan semua barang-barang kami. Seorang perempuan, berperawakan kecil, yang juga landlord dari Pak Frid, kawan saya, memandangi barang-barang kami, yang menurut ukuran dia too much.., lalu tanpa mau tahu keadaan kami, dia lalu buru-buru menunjukkan ekspresi tidak suka. ”Whats…..!”, teriaknya, sambil tangannya dia memegang kepalanya. “Why Indonesian like to bring many stuffs?”, semprotnya.

Malangnya kawanku, ketika dia berniat baik menolong saya, malah dia kena semprot. Lalu buru-buru Frid menjelaskan, “ini barang kawan saya”, sambil dia menunjuk saya. ”Dia akan segera pergi dari sini, karena hujan, maka barangnya saya masukkan disini. Kami akan segera memesan taksi”, ujarnya menjelaskan. “Ok, saya akan panggil taksi segera” ujar si landlord tanpa ba bi bu.

Seketika lapar dan haus tak kurasakan. Makanan yang baru saja kubeli untuk Pak Frid, kutaruh begitu saja di trotoar. Mataku tak lepas memandangi Pak Frid. Mata yang melihatku dengan belas kasih. Namun kutahu tak ada yang bisa dia lakukan selain memasukkan segera seluruh barang-barangnya kedalam rumah. Perut laparkupun seketika lenyap. Berganti kepedihan dan ketidakmengertian tentang makna belas kasih.

Saat kumenunggu taksi, seorang perempuan Belanda setengah tua, berkata dengan bahasa Belanda yang tak kumengerti. Lalu kubilang ” sorry I cannot speak Dutch, I don’t understand what do you mean”. Seketika dia bilang “why do you look so sad? What happens with you?” tatapnya dengan kasih. Waktu itu aku hanya tersenyum tipis dan bilang “thank for your attention, I am Ok”.

Tak seberapa lama, taksi datang dan tanpa kepastian kutunjuk satu alamat di Fideolalaan. Sepanjang jalan kuhanya terdiam dan pasrah pada jalan Allah. Ternyata Tuhanku adalah Maha Kasih, tak lama setelah kupencet bel disalah satu flat, seorang perempuan setengah tua cantik menyambutku dengan ramah. Dan akhirnya dia sepakat menyewakan kamar mungilnya untuk aku.

Tuhanku yang Maha Kasih, Ar-rohman Ar-rokhim, sungguh hari ini aku mengerti Kemahaan Kasih MU. Bahwa Kasihmu tak terbatas. Kau ajarkan manusia untuk mengerti kasih tanpa pandang bulu. Hanya saja, manusialah yang terlalu picik menutup mata dan hatinya untuk saling mengasihi dan menjalankan Kasih yang telah Kau ajarkan pada kami. Terimakasih Allah, kau beri aku hari ini untuk mengerti KemahaanMu

(fideolalaan, Amstelven 19 Agustus 2007)

PS.
tulisan ini kubuat bulan agustus, tapi telat postingnya....

Sabtu, 01 September 2007

Aku adalah PerempuanMu

Pujanggaku..sungguh berat hidupku jauh dari kasihmu. Rasanya onak dan duri mulai menyakitiku. Menusuk lengan dan kakiku, bahkan hatikupun mulai dilukainya. Kubayangkan..kau rawat lukaku dengan kasihmu, kau balut kesakitanku dengan cintamu...Kuingin katakan penderitanku, melalui kejujuranku, agar kau mengerti bahwa aku adalah perempuanmu.
(Fideolelaan, 1 September 2007)

Sekarang, dikesendirianku, kutulis bait kerinduanku melalui not-not komputer, yang juga terrenyuh menyaksikan kesendirianku. Kutak mau menghitung hariku, karena bagiku hariku adalah kesepianku. Penderitaanku.

Kekasihku...
kubertahan disini dengan luka kerinduan. Kata kita, "ini demi masa depan". Kekasihku..
kutahu kaupun merasakan hal yang sama. Kesendirian dan kerinduan yang makin menganga.

Sungguh jika boleh kupinta pada waktu..aku akan memintanya mengulang waktuku, ketika aku tak bersedia pertaruhkan hidupku disini, sendiri. Aku menikmati masa laluku, bersamamu, kekasihku. Meski tanpa suara, hati kita dekat. Ada kebahagian yang membuncah. Kebahagiaan orang Jawa yang "mangan ora mangan asal ngumpul".
Aku memang perempuan Jawa yang menikmati kesederhanaan cintamu. Kuingat masa lalu, ketika kita memulai merasa sesuatu yang beda dalam pertemanan kita, ketika rasa itu akhirnya berujud cinta yang jarang kau umbar. Namun kucoba memahami cinta dari seorang pujanggaku, yang akhirnya menitiskan Sekar-ku.

PS.
Salam buat LelakiKu...

Senin, 20 Agustus 2007

Masa Sekarang dan Masa Depan

Perih, kudengar panggilanmu sayang.
Demi sebuah mimpi, penderitaan demi penderitaan harus dialami. "Mungkin aku tak sekuat yang kau sangka,kawan", kataku lirih. Saat ini aku gontai berjalan sendiri disini...(Minnervaplain, 20 agustus 2007)

Paragraph kepedihan ini akhirnya meluncur tak terkendali dari relung hatiku. Jari-jemariku yang semestinya me-representative-kan hatiku justru menggodaku untuk menari dan melupakan kepedihan hati ini. Meski tak berhasil!.

ternyata meraih kesempatan...
tak semudah kusangka.....
waktu yang berlalu...
dan jarak masih saja terbentang...

Penggalan bait lagu Belahan Jiwa-nya Kla Project menyadarkanku pada moment tarik menarik antara masa sekarang dan masa depan yang membuahkan penderitaan. Sungguh aku ingin memandang lebih objective penderitaanku. Lalu kuberkata pada diriku sendiri "Yan..ini adalah konsekuensi atas harapan pada masa depan. Sandarkan saja pedihmu jika kamu tak mampu menanggungnya. Lihatlah Belahan Jiwamu lebih kuat dari dirimu. Suatu saat dia akan bangga padamu, seperti kata Mas Yok". SEMOGA...

Kamis, 16 Agustus 2007

Teguran Indah

Suatu saat aku
Mencoba untuk mengutuk tuhan
Sungguh aku kecewa kepadaMu
Ketika aku merasa Dia tak lagi memihakku
Ternyata..
Aku juga semakin sadar untuk
Memaknai memihakpun aku semakin naif
Bagaimana aku bisa melakukannya
Ketika aku terjopok aku mulai meliriknya..

Pada titik dimana
Allah menegurku
Aku semakin kuat
Kuterdesak sekaligus aku beruntung
Ini adalah buku besar yang tiada taranya
Sungguh ini...
Adalah lautan dengan segala kedalamannya
Penanya adalah segala ciptaannya
Dan langit adalah pengetahuan yang tertinggi

Bagaimana mungkin aku bisa
Berpikir aku celaka
Sementara ini adalah teguran indah
Betapa ini adalah kasih sayang yang luas
Seluasnya di mana tak ada manusia yang akan mengukurnya
Terima kasih ya Allah
Kini aku semakin tahu
Bahwa aku hanyalah budak
Yang sekarang mencoba meminta balas kasihmu kembali
Terima kasih ya Allah
Kini aku merasa sangat dekat
Sedekat perasaan ini menemuimu di setiap detik yang telah diKau hitung

Abdul Azis Rasjid
Maastricht, 15 Agustus 2007
Kulanggar janjiku hanya untuk mempertegas bahwa aku tidak pernah berjanji
ketika aku ingin melakukannya lagi, ini adalah puisi untukmu sekedar mengingatkan
bahwa aku akan selalu mendukungmu...semangatlah....

Waktu-Ku


13 agustus...
Tanpa kukehendaki akhirnya hari itu tiba juga. Waktuku berkurang dan umurku bertambah. Disini, di negeri orang, aku melewati hariku tanpa pelitaku. Namun cinta dan sayang mereka, kurasa begitu melimpah. Alhamdullillah Tuhan, ucapku bersyukur.

Dari jauh pelitaku membakar lilin, mengirim foto dan berdoa untukku. Pesta kecilpun digelar, meski hanya sepenggal kertas yang mewakili kehadiranku, namun simbol kasih sayang ini lebih bermakna dari simbol cinta Taj Mahal di India.

Terasa betul kekosongan itu. Namun apa daya, jarak membatasi fisik kita. Untunglah, hati kita tak terbatasi oleh ruang. Pelita kecilku turut mengambil peran. Meski belum mampu berucap secara verbal mempertanyakan dan mencari jawab "mengapa?", namun dia merasakan ketidakbiasaan.

Ya..anakku..
waktu memang bergulir.....
Sekarang kita berada disini,
di jalan ini.

dengar... dengarlah anakku
dengarlah aku dengan hatimu...
bicara...bicaralah anakku...
bicaralah denganku dengan hati...

Niscaya...kamu akan memahami hangatnya kasih kita
waktu memang berjalan...
ruang memang terbatas..
namun hati kita tak terbatas ruang dan waktu...

anakku...
terimakasih kamu telah memberitahuku makna waktu dan kehadiranmu

Terimakasih Sobat...Jefri


Dear Yanny,

Ada asa mendamba masa,
Ada purnama menghitung hari,
Ada hati mendamba pulang,
Ada cinta menunggu di sana,

Kisah seorang Ibu yang sangat bijak,
Tak mau membiarkan anak "datang" saat orang 17an,
Karena dia tahu saat itu orang sibuk dengan "nusantara"
Dan topic happy birthday akan tenggelam,

Kisah seorang ayah nan bersahaja
Ketika mendengar kisah seorang putri ke kincir,
Mungkin dia terenyuh dalam dada,
Membayang sederet "perjuangan" masa lalu
Membayang untaian hari nan tak pasti,
Yang diakhiri dengan "senyum bangga"
Mungkin saat ini dia berkata
"anakku sudah melunasi hutang sakit hati Indonesia masa lalu,

Nun jauh di bumi pertiwi
Seorang putri kecil ,
Dalam nada penuh tanya,
Seakan tak percaya apa kata Papanya
Tentang sang Ibunda nun jauh di negeri Kincir
Mendulang ilmu merangkai kebijakan,

Mungkin dia bertanya,
Apa yang kau cari Bu ?
Apa yang mau kau dapatkan bunda?
Ada yang tertinggal di sini,
Di sini, di rumah ini,
Saat Ibunda tergesa gesa melipat tiket,
Sekali mendaratkan ciuman,
Dan kereta api kejam itu membawanya ke Jakarta,
Kata Ibu ada masa depan di Jakarta,

Kadang lelaki itu termenung sendu,
Membayangkan sang kekasih hati yang penuh cita cita
Menahan sang kekasih berarti kesempatan hilang
Tapi melepas pergi....ah semuanya penuh misteri

Senada dalam kegembiraan mu hari ini
Tiada kata yang lebih indah dariku
Selain "doa kecil"
Semoga panjang usia,
Diberi kelimpahan dunia dan surgawi di masa ini dan masa mendatang,
Semakin dicintai anak,
semakin dicintai sang suami,
dan semuanya


HAPPY BIRTHDAY MY FRIEND

Sorry ya Bu De, aku kog kayak sok tahu aja kalau yang di Indon merasa begitu,
So, tetap semangat ya.

Minggu, 12 Agustus 2007

Paris dan Pencarian Kebahagiaan

Pagi ini sarapanku Lasagna,makanan orang bule yang mulai kuakrabi sejak empat bulan lalu. Dan kemarin, aku ber-holiday di Paris, mengunjungi Si Menara besi Eiffel, makam Si Napoleon dan di Musium La Pyramide du Lauvre, dimana senyum manis si La Joconde diserbu ribuan orang bak bintang film.

Ini benar-benar kenyataan yang membuatku seolah tak habis mengerti. Aku, perempuan yang tak lagi muda, yang terlahir dari sebuah kota kecil di belahan gunung Sindoro Sumbing, yang terlahir dari keluarga miskin, dari Mamak dan Bapak yang cuman pedagang baju rombeng dan pesuruh kantor P Dan K. Jika bukan karena keberuntungan pasti tak pernah aku berada di sini sekarang. Rencana Allah-lah yang menjadikanku disini. Mengingatku untuk selalu mencuci hatiku.

Saat kutiti tangga Eifel, kembali kumengingatkan kehidupanku, dan kuumpamakan seperti titian tangga ini. Bahwa akan tiba saat aku harus kembali turun dari ketinggian dan memulai perjalanan baru. Kata-kata agung saat aku mendaki jajaran gunung di Jawa kembali menggaung "aku mendaki bukan untuk mencari kebanggaan, aku mendaki untuk mencari jati diri".

Ketinggian Eiffle harus dilalui. Perjalanan baru ke Musium De Louvre harus dilewati dengan cukup melelahkan, karena beberapa kali aku dan teman terpaksa bertanya arah peta. Sesampai di kaca piramid, tempat ribuan turis berfoto dan mengagumi karya sang arsitect, lalu kubayar 9 euro (lebih dari seratus ribu rupiah) buat melihat senyum si Mona Lisa. Sesampai di dalam, sambil terpaku kumelihat bertumpuknya orang di sel no 6, tempat si Mona Lisa diserbu Paparazi dadakan. Gila Mak...orang yang berkunjung disini hanya terpaku melihat lukisan imajinatif dari Leonardo Da Vinci, aku cuma melirik senyum si Mona yang bagiku lebih terasa senyum mengejek. Menertawakan keberadaanku. Sebentar, kuambil potret setelah berusaha menyelipkan tubuhku diantara tubuh-tubuh besar orang bule dan china yang berduit, dan kutinggalkan kerumunan itu.

Sambil duduk istirahat, aku kembali pada kehidupan paradoksal yang kualami. Perjalanan sekarang laksana kehidupan Mahayana. Tempat-tempat yang semula kukenal melalui dunia informasi, sekarang menjadi bagian dari dunia riilku.

Holiday yang semestinya membuahkan kebahagiaan, sejatinya hanya fatamorgana bagiku. Sepi diantara keramaian, senyuman diatas kepedihan. Kok bisa ya...?. Orang bilang tak ada kebahagiaan yang sempurna..jadi gak masalah toh kalau holiday yang kulewati itu tidak begitu sempurna. Justru permasalahnya terletak pada caraku menghayati perjalanan dan menghayati keindahan kota Paris. Di titik ini perjalanan kemarin belum menemukan keindahan hati seindah kota Paris. Mungkin suatu kali....Bersamamu Sang Dewi...

(Maastricth, 12 agustus 2007).

Jumat, 10 Agustus 2007

Strategi Pencarian Dukungan Suara oleh Amien Rais

ABSTRACT

Artikel ini merupakan analisis awal mengenai perubahan arena netral menjadi arena politik. Arena yang ditelaah adalah pasar tradisional. Kunjungan Amien Rais ke tiga pasar tradisional mempunyai muatan politik, yakni untuk kampanye. Penulis menunjukkan bahwa arena yang selama ini dianggap netral, justru berubah menjadi arena kepentingan bagi Amien Rais untuk mendapatkan dukungan suara. Penulis mengaitkan gejala situasi krisis ekonomi yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan pasar sebagai institusi ekonomi lokal yang merupakan ruang publik bagi perempuan dengan perilaku politik Amien Rais sebagai strategi untuk menarik suara perempuan. (Keywords : pasar tradisional, Amien Rais, kampanye, gender, politik uang).

Tong Sampah....

"Ya..jadi kita bertemu dimana...?" tanyaku pada seorang kawan Belanda thothok,dengan Bahasa Inggrisku yang pas-pasan.
"Di meeting point stasiun Utrech?", jawabnya. "Disitu ada patung, yang mudah dikenali..."tambahnya.
"Iya...tapi setahun lalu, saya tak temukan patung disana. Yang kuingat hanya tong sampah..", ujarku pula.
"What's...kamu hanya mengingat tong sampah sebagai identitas negaraku", teriaknya agak tersinggung.
"Ya....memang, Saya hanya ingat tong sampah"..jawabku lugu.
(Maastricth, akhir April 2007).

Penggalan pembicaraan sederhana ini terjadi empat bulan lalu, saat kuulang bertandang ke Belanda, dengan tujuan berbeda. Bagiku benda berwarna hitam terbuat dari besi bernama TONG SAMPAH ini lebih menarik perhatianku daripada Red Light Districtnya Amsterdam. Sejak empat bulan lalu, mataku selalu tertarik mengamati tong sampah dalam sepanjang perjalanan yang kulalui dibeberapa bagian negara Eropa seperti Belanda, Belgium dan Jerman.

Lalu, tanpa bermaksud menyinggung kawan Belandaku ini, kujelaskan tentang culture of tong sampah di negaraku. Aneh..ya...maksudku cara pandang kita ama benda bernama tong sampah?. Yach..dinegaraku, yang namanya tong sampah berkonotasi buruk, tempat kotoran dan sarang penyakit. Makanya jarang kita temukan tong sampah ditempatkan didekat kita. Ada usahakan untuk meletakkan sejauh mungkin tong sampah dari pandang mata kita. Lain Lubuk Lain Belalang,...begitu katanya. Jika di Indonesia begitu, tong sampah di Utrech Central Stasiun, justru ditempatkan hanya satu langkah di dekat tempat duduk untuk menunggu. Seperti mimi lan mintuno, setiap kali kita duduk di kursi tunggu, disebelah kanan dan kiri kita pasti ditemukan tong sampah.

Tak ingin pertemanan ini rusak gara-gara tong sampah, lalu kujelaskan alasanku dengan hati-hati. Untungnya dia mengerti dan menerima penjelasanku. Lalu setelahnya dengan tertawa renyah, kawan Belandaku ini menjadi mahfum dan menjawab. "Ya.. Yani, sampah disini bersih dan tidak berbau. Ada petugas yang mengambil sekaligus mengganti plastik setiap jam. Sampah itu ditempatkan didekat kursi tunggu agar orang tidak membuang sampah di sembarang tempat", tambahnya.

Mulai saat itu, keinginantahuanku untuk mengamati benda yang semula berimage buruk dikepalaku, semakin menjadi. Tong sampah menjadi object study-ku yang lain. Dalam perjalanan ke Kohln (Cologne), Jerman, tong sampah memiliki bentuk yang manis. Tak ada kesan kotor atau bau.

Tanpa ada maksud menertawakan cara pikir kita yang terlanjur underestimate pada tong sampah, tapi aku harap, cerita ini bisa membangunkan kesadaran kita bahwa kita bisa membangun citra baik negara kita, hanya dari benda kecil bernama TONG SAMPAH...ya nggak friends..?

Dunia Mayamu...

Maaf nak..., Bunda tak bisa menemanimu tidur dan bermain. Juga tak mampu membuatmu nyaman berbicara dengan Bunda, karena kita bicara tanpa sentuhan, tanpa pelukan. Jarak telah membatasi kita. Yach...sejak empat bulan lalu,kau lalui hari-harimu, tanpa belaianku. Maafkan aku sayang...

Nak...sekarang bunda sedang mengejar mimpi, meski tertatih-tatih. Bunda tahu, engkaulah semangatku. Jadi buka tanganmu anakku. Suatu saat engkau akan mengerti apa arti mengejar mimpi dan mengejar harapan. Sungguh...penderitaan yang kau rasakan, membuatku perih.

Kata ayah, engkau sangat merindukan aku dan bertanya dimana Bundamu. Sayang..., terlalu banyak pertanyaan sederhana yang kau pertanyakan, yang tak mampu kujawab. Senyumku semakin kecut, saat kulihat foto-fotomu didunia maya. Suatu saat kamu akan melihat betapa Bundamu memelihara dunia mayamu dengan cinta dan sayang. http://www.flickr.com/photos/sekar/

Kamis, 09 Agustus 2007

JUMUD....!

Di tempat ini aku berdiri
diketinggian dimana pohon-pohon lain tumbuh agak jauh,
merenggang….

Hempasan angin terasa kuat menerpa
Membawa badai yang menggoyahkan akarku….
Badai yang tak biasa…
Kekuatanku melemah...
Membawaku pada titik kejumudan...

Akalku menyuruhku bertahan....
Lalu...kuperintah semua dahan, ranting dan daun menahan hempasan angin…
Pikirku…”akan kutahan badai ini”, ungkapku pongah...
Namun tiba-tiba...kekuatanku lenyap...
Daunku jatuh… gugur,
Dahan dan rantingku patah……terserak…
Lalu perlahan..akarku tercerabut…

Aku termenung….
Memahami diriku,
Mempertanyakan dimana aku….
Dan…mencari jawab mengapa badai ini tak mudah kutahan…

(Maastricth,12.08…9 agustus 2007)

Titik...

Mungkin akan tetep seperti ini,
seperti titik-titik yang tak berujung,...
aku masih di sini,
dan dia disana...
merenungi nasib tak berkesudahan...

Bangkit...tak lagi bertuah,
Hanya sekedar kata tak bermakna
kita masih tetep menjajari langkah yang sama.....
dan
berharap pada perubahan, yang tak lagi diperjuangkan....
lalu....apa makna perjuangan...?

(Maastricth 10.06, 7 agustus 2007)

Sabtu, 28 Juli 2007

List of Publications

  1. Kompleksitas Identitas Agama dan Munculnya Medan Pluralitas di tingkat Lokal (2002, Research report, unpublicated)
  2. Pertumbuhan “Gereja Kontekstual” dan Munculnya Pusat Baru Gereja (Desember, 2003 reserach report, unpublicated)
  3. Paradoks Pandetokrasi dan Awamisasi : Upaya Gereja Jawa untuk menjadi Gereja Kontekstual ( April 2005, Makalah Seminar)
  4. RELIGIOUS CONVERSIONS IN CENTRAL JAVA; Struggling for space in two local communities. Haryani Saptaningtyas & Pradjarta Dirdjosanjoto, 2004, published by Uitgeverij Eburon, Belanda. Books Title “The Development of Religion / The Religion of Development” (Anton Van Harskamp & Ananta Kumar Giri). ISBN 90 5972 038 5
  5. Buruh Anak dalam Perangkap Hutang; Studi Kasus di Industri Rumahan Mie Soon. MR Zainal Abidin & Haryani Saptaningtyas, May 2004, published by SARI (Social Analysis and Research Institute) and TdH Netherland.
  6. Pasar Tradisional dan Politik – Perilaku Politik dalam Strategi Pencarian Dukungan Suara oleh Amien Rais. Haryani Saptaningtyas, October 2003. Journal of Local Politic & Social Humaniora “RENAI” Edisi Musim Labuh October 2003. ISSN 1411-7924
  7. Pluralitas Agama : Islam, Islam Praktis, Abangan dan Kejawen. Haryani Saptaningtyas, October 2002. Book Review of Variasi Agama-Agama di Jawa (Andrew Beaty). Publish by Journal “RENAI” Edisi Musim Kemarau-Labuh, July-October 2003. ISSN 1411-7924
  8. Mulailah dengan mendengar pendapat anak (Haryani Saptaningtyas, 23 July 2002
    Article published by SOLOPOS Newspaper, Solo)
  9. Situasi Buruh Anak di Enam Daerah. (Haryani Saptaningtyas, Mulyadi, & MR Zainal Abidin, September 2001, published by SARI- TdH Netherland)

Belahan Jiwa


Kutulis deretan kata penuh makna....
Meski kutahu, kau belum mampu memaknainya....
Namun kupercaya, jiwa kita berbicara...
Lebih dari sekedar kata...

Belahan jiwaku...
deretan gunung dan samudra luas memisahkan kita…
Kataku....
Ini demi sebuah masa...

Kutahu…terlalu sulit bagimu memahami…
Kenapa dirimu mesti terlahir ….
Untuk merasakan penderitaan
Atas nama perpisahan….

Namun percayalah..... Belahan jiwaku…..
Akan datang sebuah masa ketika kutumpahkan rindu dan sayang ini tanpa batas....
Karena kaulah Belahan jiwaku
Yang terlahir dari tubuh Dewi Kesuburan dan tetesan wahyu Dewa Kesucian.....

Kekuatan jiwamu meyakinkan aku
Teriakanmu memacuku
Tangismu membahasakan kegelisahan yang mencambukku
Membuatku berlari kencang.....
Mengejar masa, ketika kita bertemu tanpa batas ruang


(kutulis dengan seluruh darah yang mengalir utuh dan menghidupkan ruhku. Friday, 27 July, 2007. 12.11 waktu Maastricth)