Senin, 20 Agustus 2007

Masa Sekarang dan Masa Depan

Perih, kudengar panggilanmu sayang.
Demi sebuah mimpi, penderitaan demi penderitaan harus dialami. "Mungkin aku tak sekuat yang kau sangka,kawan", kataku lirih. Saat ini aku gontai berjalan sendiri disini...(Minnervaplain, 20 agustus 2007)

Paragraph kepedihan ini akhirnya meluncur tak terkendali dari relung hatiku. Jari-jemariku yang semestinya me-representative-kan hatiku justru menggodaku untuk menari dan melupakan kepedihan hati ini. Meski tak berhasil!.

ternyata meraih kesempatan...
tak semudah kusangka.....
waktu yang berlalu...
dan jarak masih saja terbentang...

Penggalan bait lagu Belahan Jiwa-nya Kla Project menyadarkanku pada moment tarik menarik antara masa sekarang dan masa depan yang membuahkan penderitaan. Sungguh aku ingin memandang lebih objective penderitaanku. Lalu kuberkata pada diriku sendiri "Yan..ini adalah konsekuensi atas harapan pada masa depan. Sandarkan saja pedihmu jika kamu tak mampu menanggungnya. Lihatlah Belahan Jiwamu lebih kuat dari dirimu. Suatu saat dia akan bangga padamu, seperti kata Mas Yok". SEMOGA...

Kamis, 16 Agustus 2007

Teguran Indah

Suatu saat aku
Mencoba untuk mengutuk tuhan
Sungguh aku kecewa kepadaMu
Ketika aku merasa Dia tak lagi memihakku
Ternyata..
Aku juga semakin sadar untuk
Memaknai memihakpun aku semakin naif
Bagaimana aku bisa melakukannya
Ketika aku terjopok aku mulai meliriknya..

Pada titik dimana
Allah menegurku
Aku semakin kuat
Kuterdesak sekaligus aku beruntung
Ini adalah buku besar yang tiada taranya
Sungguh ini...
Adalah lautan dengan segala kedalamannya
Penanya adalah segala ciptaannya
Dan langit adalah pengetahuan yang tertinggi

Bagaimana mungkin aku bisa
Berpikir aku celaka
Sementara ini adalah teguran indah
Betapa ini adalah kasih sayang yang luas
Seluasnya di mana tak ada manusia yang akan mengukurnya
Terima kasih ya Allah
Kini aku semakin tahu
Bahwa aku hanyalah budak
Yang sekarang mencoba meminta balas kasihmu kembali
Terima kasih ya Allah
Kini aku merasa sangat dekat
Sedekat perasaan ini menemuimu di setiap detik yang telah diKau hitung

Abdul Azis Rasjid
Maastricht, 15 Agustus 2007
Kulanggar janjiku hanya untuk mempertegas bahwa aku tidak pernah berjanji
ketika aku ingin melakukannya lagi, ini adalah puisi untukmu sekedar mengingatkan
bahwa aku akan selalu mendukungmu...semangatlah....

Waktu-Ku


13 agustus...
Tanpa kukehendaki akhirnya hari itu tiba juga. Waktuku berkurang dan umurku bertambah. Disini, di negeri orang, aku melewati hariku tanpa pelitaku. Namun cinta dan sayang mereka, kurasa begitu melimpah. Alhamdullillah Tuhan, ucapku bersyukur.

Dari jauh pelitaku membakar lilin, mengirim foto dan berdoa untukku. Pesta kecilpun digelar, meski hanya sepenggal kertas yang mewakili kehadiranku, namun simbol kasih sayang ini lebih bermakna dari simbol cinta Taj Mahal di India.

Terasa betul kekosongan itu. Namun apa daya, jarak membatasi fisik kita. Untunglah, hati kita tak terbatasi oleh ruang. Pelita kecilku turut mengambil peran. Meski belum mampu berucap secara verbal mempertanyakan dan mencari jawab "mengapa?", namun dia merasakan ketidakbiasaan.

Ya..anakku..
waktu memang bergulir.....
Sekarang kita berada disini,
di jalan ini.

dengar... dengarlah anakku
dengarlah aku dengan hatimu...
bicara...bicaralah anakku...
bicaralah denganku dengan hati...

Niscaya...kamu akan memahami hangatnya kasih kita
waktu memang berjalan...
ruang memang terbatas..
namun hati kita tak terbatas ruang dan waktu...

anakku...
terimakasih kamu telah memberitahuku makna waktu dan kehadiranmu

Terimakasih Sobat...Jefri


Dear Yanny,

Ada asa mendamba masa,
Ada purnama menghitung hari,
Ada hati mendamba pulang,
Ada cinta menunggu di sana,

Kisah seorang Ibu yang sangat bijak,
Tak mau membiarkan anak "datang" saat orang 17an,
Karena dia tahu saat itu orang sibuk dengan "nusantara"
Dan topic happy birthday akan tenggelam,

Kisah seorang ayah nan bersahaja
Ketika mendengar kisah seorang putri ke kincir,
Mungkin dia terenyuh dalam dada,
Membayang sederet "perjuangan" masa lalu
Membayang untaian hari nan tak pasti,
Yang diakhiri dengan "senyum bangga"
Mungkin saat ini dia berkata
"anakku sudah melunasi hutang sakit hati Indonesia masa lalu,

Nun jauh di bumi pertiwi
Seorang putri kecil ,
Dalam nada penuh tanya,
Seakan tak percaya apa kata Papanya
Tentang sang Ibunda nun jauh di negeri Kincir
Mendulang ilmu merangkai kebijakan,

Mungkin dia bertanya,
Apa yang kau cari Bu ?
Apa yang mau kau dapatkan bunda?
Ada yang tertinggal di sini,
Di sini, di rumah ini,
Saat Ibunda tergesa gesa melipat tiket,
Sekali mendaratkan ciuman,
Dan kereta api kejam itu membawanya ke Jakarta,
Kata Ibu ada masa depan di Jakarta,

Kadang lelaki itu termenung sendu,
Membayangkan sang kekasih hati yang penuh cita cita
Menahan sang kekasih berarti kesempatan hilang
Tapi melepas pergi....ah semuanya penuh misteri

Senada dalam kegembiraan mu hari ini
Tiada kata yang lebih indah dariku
Selain "doa kecil"
Semoga panjang usia,
Diberi kelimpahan dunia dan surgawi di masa ini dan masa mendatang,
Semakin dicintai anak,
semakin dicintai sang suami,
dan semuanya


HAPPY BIRTHDAY MY FRIEND

Sorry ya Bu De, aku kog kayak sok tahu aja kalau yang di Indon merasa begitu,
So, tetap semangat ya.

Minggu, 12 Agustus 2007

Paris dan Pencarian Kebahagiaan

Pagi ini sarapanku Lasagna,makanan orang bule yang mulai kuakrabi sejak empat bulan lalu. Dan kemarin, aku ber-holiday di Paris, mengunjungi Si Menara besi Eiffel, makam Si Napoleon dan di Musium La Pyramide du Lauvre, dimana senyum manis si La Joconde diserbu ribuan orang bak bintang film.

Ini benar-benar kenyataan yang membuatku seolah tak habis mengerti. Aku, perempuan yang tak lagi muda, yang terlahir dari sebuah kota kecil di belahan gunung Sindoro Sumbing, yang terlahir dari keluarga miskin, dari Mamak dan Bapak yang cuman pedagang baju rombeng dan pesuruh kantor P Dan K. Jika bukan karena keberuntungan pasti tak pernah aku berada di sini sekarang. Rencana Allah-lah yang menjadikanku disini. Mengingatku untuk selalu mencuci hatiku.

Saat kutiti tangga Eifel, kembali kumengingatkan kehidupanku, dan kuumpamakan seperti titian tangga ini. Bahwa akan tiba saat aku harus kembali turun dari ketinggian dan memulai perjalanan baru. Kata-kata agung saat aku mendaki jajaran gunung di Jawa kembali menggaung "aku mendaki bukan untuk mencari kebanggaan, aku mendaki untuk mencari jati diri".

Ketinggian Eiffle harus dilalui. Perjalanan baru ke Musium De Louvre harus dilewati dengan cukup melelahkan, karena beberapa kali aku dan teman terpaksa bertanya arah peta. Sesampai di kaca piramid, tempat ribuan turis berfoto dan mengagumi karya sang arsitect, lalu kubayar 9 euro (lebih dari seratus ribu rupiah) buat melihat senyum si Mona Lisa. Sesampai di dalam, sambil terpaku kumelihat bertumpuknya orang di sel no 6, tempat si Mona Lisa diserbu Paparazi dadakan. Gila Mak...orang yang berkunjung disini hanya terpaku melihat lukisan imajinatif dari Leonardo Da Vinci, aku cuma melirik senyum si Mona yang bagiku lebih terasa senyum mengejek. Menertawakan keberadaanku. Sebentar, kuambil potret setelah berusaha menyelipkan tubuhku diantara tubuh-tubuh besar orang bule dan china yang berduit, dan kutinggalkan kerumunan itu.

Sambil duduk istirahat, aku kembali pada kehidupan paradoksal yang kualami. Perjalanan sekarang laksana kehidupan Mahayana. Tempat-tempat yang semula kukenal melalui dunia informasi, sekarang menjadi bagian dari dunia riilku.

Holiday yang semestinya membuahkan kebahagiaan, sejatinya hanya fatamorgana bagiku. Sepi diantara keramaian, senyuman diatas kepedihan. Kok bisa ya...?. Orang bilang tak ada kebahagiaan yang sempurna..jadi gak masalah toh kalau holiday yang kulewati itu tidak begitu sempurna. Justru permasalahnya terletak pada caraku menghayati perjalanan dan menghayati keindahan kota Paris. Di titik ini perjalanan kemarin belum menemukan keindahan hati seindah kota Paris. Mungkin suatu kali....Bersamamu Sang Dewi...

(Maastricth, 12 agustus 2007).

Jumat, 10 Agustus 2007

Strategi Pencarian Dukungan Suara oleh Amien Rais

ABSTRACT

Artikel ini merupakan analisis awal mengenai perubahan arena netral menjadi arena politik. Arena yang ditelaah adalah pasar tradisional. Kunjungan Amien Rais ke tiga pasar tradisional mempunyai muatan politik, yakni untuk kampanye. Penulis menunjukkan bahwa arena yang selama ini dianggap netral, justru berubah menjadi arena kepentingan bagi Amien Rais untuk mendapatkan dukungan suara. Penulis mengaitkan gejala situasi krisis ekonomi yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan pasar sebagai institusi ekonomi lokal yang merupakan ruang publik bagi perempuan dengan perilaku politik Amien Rais sebagai strategi untuk menarik suara perempuan. (Keywords : pasar tradisional, Amien Rais, kampanye, gender, politik uang).

Tong Sampah....

"Ya..jadi kita bertemu dimana...?" tanyaku pada seorang kawan Belanda thothok,dengan Bahasa Inggrisku yang pas-pasan.
"Di meeting point stasiun Utrech?", jawabnya. "Disitu ada patung, yang mudah dikenali..."tambahnya.
"Iya...tapi setahun lalu, saya tak temukan patung disana. Yang kuingat hanya tong sampah..", ujarku pula.
"What's...kamu hanya mengingat tong sampah sebagai identitas negaraku", teriaknya agak tersinggung.
"Ya....memang, Saya hanya ingat tong sampah"..jawabku lugu.
(Maastricth, akhir April 2007).

Penggalan pembicaraan sederhana ini terjadi empat bulan lalu, saat kuulang bertandang ke Belanda, dengan tujuan berbeda. Bagiku benda berwarna hitam terbuat dari besi bernama TONG SAMPAH ini lebih menarik perhatianku daripada Red Light Districtnya Amsterdam. Sejak empat bulan lalu, mataku selalu tertarik mengamati tong sampah dalam sepanjang perjalanan yang kulalui dibeberapa bagian negara Eropa seperti Belanda, Belgium dan Jerman.

Lalu, tanpa bermaksud menyinggung kawan Belandaku ini, kujelaskan tentang culture of tong sampah di negaraku. Aneh..ya...maksudku cara pandang kita ama benda bernama tong sampah?. Yach..dinegaraku, yang namanya tong sampah berkonotasi buruk, tempat kotoran dan sarang penyakit. Makanya jarang kita temukan tong sampah ditempatkan didekat kita. Ada usahakan untuk meletakkan sejauh mungkin tong sampah dari pandang mata kita. Lain Lubuk Lain Belalang,...begitu katanya. Jika di Indonesia begitu, tong sampah di Utrech Central Stasiun, justru ditempatkan hanya satu langkah di dekat tempat duduk untuk menunggu. Seperti mimi lan mintuno, setiap kali kita duduk di kursi tunggu, disebelah kanan dan kiri kita pasti ditemukan tong sampah.

Tak ingin pertemanan ini rusak gara-gara tong sampah, lalu kujelaskan alasanku dengan hati-hati. Untungnya dia mengerti dan menerima penjelasanku. Lalu setelahnya dengan tertawa renyah, kawan Belandaku ini menjadi mahfum dan menjawab. "Ya.. Yani, sampah disini bersih dan tidak berbau. Ada petugas yang mengambil sekaligus mengganti plastik setiap jam. Sampah itu ditempatkan didekat kursi tunggu agar orang tidak membuang sampah di sembarang tempat", tambahnya.

Mulai saat itu, keinginantahuanku untuk mengamati benda yang semula berimage buruk dikepalaku, semakin menjadi. Tong sampah menjadi object study-ku yang lain. Dalam perjalanan ke Kohln (Cologne), Jerman, tong sampah memiliki bentuk yang manis. Tak ada kesan kotor atau bau.

Tanpa ada maksud menertawakan cara pikir kita yang terlanjur underestimate pada tong sampah, tapi aku harap, cerita ini bisa membangunkan kesadaran kita bahwa kita bisa membangun citra baik negara kita, hanya dari benda kecil bernama TONG SAMPAH...ya nggak friends..?

Dunia Mayamu...

Maaf nak..., Bunda tak bisa menemanimu tidur dan bermain. Juga tak mampu membuatmu nyaman berbicara dengan Bunda, karena kita bicara tanpa sentuhan, tanpa pelukan. Jarak telah membatasi kita. Yach...sejak empat bulan lalu,kau lalui hari-harimu, tanpa belaianku. Maafkan aku sayang...

Nak...sekarang bunda sedang mengejar mimpi, meski tertatih-tatih. Bunda tahu, engkaulah semangatku. Jadi buka tanganmu anakku. Suatu saat engkau akan mengerti apa arti mengejar mimpi dan mengejar harapan. Sungguh...penderitaan yang kau rasakan, membuatku perih.

Kata ayah, engkau sangat merindukan aku dan bertanya dimana Bundamu. Sayang..., terlalu banyak pertanyaan sederhana yang kau pertanyakan, yang tak mampu kujawab. Senyumku semakin kecut, saat kulihat foto-fotomu didunia maya. Suatu saat kamu akan melihat betapa Bundamu memelihara dunia mayamu dengan cinta dan sayang. http://www.flickr.com/photos/sekar/

Kamis, 09 Agustus 2007

JUMUD....!

Di tempat ini aku berdiri
diketinggian dimana pohon-pohon lain tumbuh agak jauh,
merenggang….

Hempasan angin terasa kuat menerpa
Membawa badai yang menggoyahkan akarku….
Badai yang tak biasa…
Kekuatanku melemah...
Membawaku pada titik kejumudan...

Akalku menyuruhku bertahan....
Lalu...kuperintah semua dahan, ranting dan daun menahan hempasan angin…
Pikirku…”akan kutahan badai ini”, ungkapku pongah...
Namun tiba-tiba...kekuatanku lenyap...
Daunku jatuh… gugur,
Dahan dan rantingku patah……terserak…
Lalu perlahan..akarku tercerabut…

Aku termenung….
Memahami diriku,
Mempertanyakan dimana aku….
Dan…mencari jawab mengapa badai ini tak mudah kutahan…

(Maastricth,12.08…9 agustus 2007)

Titik...

Mungkin akan tetep seperti ini,
seperti titik-titik yang tak berujung,...
aku masih di sini,
dan dia disana...
merenungi nasib tak berkesudahan...

Bangkit...tak lagi bertuah,
Hanya sekedar kata tak bermakna
kita masih tetep menjajari langkah yang sama.....
dan
berharap pada perubahan, yang tak lagi diperjuangkan....
lalu....apa makna perjuangan...?

(Maastricth 10.06, 7 agustus 2007)