Jumat, 10 Agustus 2007

Tong Sampah....

"Ya..jadi kita bertemu dimana...?" tanyaku pada seorang kawan Belanda thothok,dengan Bahasa Inggrisku yang pas-pasan.
"Di meeting point stasiun Utrech?", jawabnya. "Disitu ada patung, yang mudah dikenali..."tambahnya.
"Iya...tapi setahun lalu, saya tak temukan patung disana. Yang kuingat hanya tong sampah..", ujarku pula.
"What's...kamu hanya mengingat tong sampah sebagai identitas negaraku", teriaknya agak tersinggung.
"Ya....memang, Saya hanya ingat tong sampah"..jawabku lugu.
(Maastricth, akhir April 2007).

Penggalan pembicaraan sederhana ini terjadi empat bulan lalu, saat kuulang bertandang ke Belanda, dengan tujuan berbeda. Bagiku benda berwarna hitam terbuat dari besi bernama TONG SAMPAH ini lebih menarik perhatianku daripada Red Light Districtnya Amsterdam. Sejak empat bulan lalu, mataku selalu tertarik mengamati tong sampah dalam sepanjang perjalanan yang kulalui dibeberapa bagian negara Eropa seperti Belanda, Belgium dan Jerman.

Lalu, tanpa bermaksud menyinggung kawan Belandaku ini, kujelaskan tentang culture of tong sampah di negaraku. Aneh..ya...maksudku cara pandang kita ama benda bernama tong sampah?. Yach..dinegaraku, yang namanya tong sampah berkonotasi buruk, tempat kotoran dan sarang penyakit. Makanya jarang kita temukan tong sampah ditempatkan didekat kita. Ada usahakan untuk meletakkan sejauh mungkin tong sampah dari pandang mata kita. Lain Lubuk Lain Belalang,...begitu katanya. Jika di Indonesia begitu, tong sampah di Utrech Central Stasiun, justru ditempatkan hanya satu langkah di dekat tempat duduk untuk menunggu. Seperti mimi lan mintuno, setiap kali kita duduk di kursi tunggu, disebelah kanan dan kiri kita pasti ditemukan tong sampah.

Tak ingin pertemanan ini rusak gara-gara tong sampah, lalu kujelaskan alasanku dengan hati-hati. Untungnya dia mengerti dan menerima penjelasanku. Lalu setelahnya dengan tertawa renyah, kawan Belandaku ini menjadi mahfum dan menjawab. "Ya.. Yani, sampah disini bersih dan tidak berbau. Ada petugas yang mengambil sekaligus mengganti plastik setiap jam. Sampah itu ditempatkan didekat kursi tunggu agar orang tidak membuang sampah di sembarang tempat", tambahnya.

Mulai saat itu, keinginantahuanku untuk mengamati benda yang semula berimage buruk dikepalaku, semakin menjadi. Tong sampah menjadi object study-ku yang lain. Dalam perjalanan ke Kohln (Cologne), Jerman, tong sampah memiliki bentuk yang manis. Tak ada kesan kotor atau bau.

Tanpa ada maksud menertawakan cara pikir kita yang terlanjur underestimate pada tong sampah, tapi aku harap, cerita ini bisa membangunkan kesadaran kita bahwa kita bisa membangun citra baik negara kita, hanya dari benda kecil bernama TONG SAMPAH...ya nggak friends..?

Tidak ada komentar: