Katanya disini orang tak percaya lagi ruh halus. Tapi faktanya... malam ini Tante, mengundang pendeta, beberapa jemaat dan anak laki-laki serta istrinya, datang melakukan ritual kecil pengusiran roh.
Sejak sore hari, aku merasa malam ini pasti ketenanganku akan terganggu, sehingga feelingku mengatakan, lebih baik jika aku keluar rumah. Tapi rencana itu tak berhasil. Aku tak punya tujuan. Jadi terpaksa aku berdiam diri di kamar kecilku.
Sejak kemarin, Tante sudah menyiapkan makanan buat tamu-tamunya. Sup buntut sudah dia rebus sejak kemarin. Kata tante, dia mau mengadakan pesta perkawinan untuk anak laki-lakinya. Tetapi beberapa keanehan mulai terasa olehku. Tante yang biasanya ngajak aku makan malam bareng, eh tiba-tiba mau mengadakan pesta, kok aku gak diundang. Terus anehnya lagi, putri bungsunya, juga tak ikut dalam acara ini, meski disore hari dia datang menjenguk sang mama.
Nah keanehan itu sedikit terjawab ketika di sore hari, Tante mengajakku omong tentang ruh, hantu dan berbagai pengalaman yang menurut dia aneh. Kemudian dengan halus dia mengatakan nanti malam akan ada doa untuk membersihkan hantu/ruh yang dipimpin seorang pendeta Indonesia. Tante bilang, mungkin karena rumah ini belum pernah diselamatkan, didoakan sejak pertama kali ia tinggal disini. Dia juga bertutur tentang sejarah rumah ini, yang dahulunya dihuni oleh orang Maroko, yang juga terkenal sebagai dukun. Ups...!
Hari menjelang malam, selepas aku berbuka puasa. Terdengar bel rumah dipencet tiga kali. Itu tandanya anaknya datang, kali ini ia datang bersama rombongan gereja. Sekedar info saja, tante dan anaknya adalah jemaat gereja evangelical yang berpusat di Amerika. Gereja ini sejak seratus tahun lalu, aktif mengadakan misionaris ke berbagai komunitas termasuk komunitas Kristen yang berbeda dominasi d Belanda. Dalam ibadahnya, gereja ini selalu menekankan keberadaan surga, neraka, devil dan enemy. Dan menurut paham mereka, hanya merekalah, yang masuk surga.
Sekitar satu jam pertama aku hanya berdiam diri di kamar, sementara mereka melakukan pembicaraan di ruang tamu. Hampir tanpa gangguan, kuteruskan aktifitas membacaku. Namun beberapa jam kemudian, tante Lineke mengundangku untuk bergabung. Demi menghormatinya, aku mengikuti dibelakangnya, bertemu dengan para tamu-tamunya. Disana aku langsung disambut oleh pendeta yang secara terus terang mengatakan tujuannya datang di rumah ini mengusir roh, karena tante sering diganggu, sekalian meminta ijin untuk memasuki kamarku. Membersihkan ruh dikamarku pula. Ups….! Apa boleh buat. Aku bilang saja, “ya silahkan, tapi kamarku berantakan lho…”
Sesaat kemudian aku dipersilahkan kembali kekamar. Langsung kuambil air wudlu untuk sholat magrib, karena memang aku belum sholat magrib. Sementara mereka, kembali melanjutkan pembicaraan dan melakukan doa per ruangan. Kata sang pendeta, dia akan mengetuk kamarku jika telah tiba gilirannya. Sesaat kemudian aku dengar mereka mulai berdoa, memanggil nama Jesus, menyanyikan haleluya, setengah berteriak. Sesekali mereka mengusir ruh. Pergi…pergi…. Aku mulai terganggu dengan suara mereka. Lalu kuambil laptopku dan kualunkan ayat suci alquran menggunakan head setku, menguatkan iman. Aku mulai terhanyut dengan lantunan ayat suci al quran. Aman dan damai.
Nah setelah beberapa ruangan didoakan yang dipimpin secara bergilir oleh jemaat. Tiba giliran kamarku. Kali ini agak istimewa. Sang pendeta sendiri yang memimpinnya. Sementara aku keluar kamar dan berdiri mengamati mereka. Sang pendetapun berdoa, dan doanyapun kali ini berbeda dengan doa yang dia panjatkan dibeberapa ruangan yang lain. Dimulai dengan menjejakkan kaki ketanah tiga kali, dia mulai berdoa dan bilang ”semua ruh yang didoakan bukan atas nama Jesus, pergi, kami ikat, juga kepercayaan lain selain Jesus atas nama agamawi lain, hinduism, budhism, islam. …..Giliran agamaku disebut, aku mulai sensi, tapi atas nama toleransi aku diam saja. Sambil tetap mengamati mereka. Sementara dalam hatiku, kusebut namamu Ya Allah.
Dititik ini, aku sungguh tak mengerti, bagaimana mungkin manusia terkotak atas nama agama. Sejak seminggu yang lalu, aku mulai mempertanyakan institusi ini. Diskusi dengan beberapa kawan, dan mengikuti kuliah anthropology agama, menawarkan pemikiran lain tentang term “religion”. Menurut Lambek, 2007, Religion sangat susah didefinisikan. Lambeks sendiri tidak bersedia mendefinikan agama, karena mendifiniskan agama juga berarti memaknai ketidakjelasan (definition is by no means obvious). Sementara beberapa anthropologist berusaha mendifinisikannya, misal Taylor’s menyebut agama sebagai “belief in supernatural beings”, meski pada akhirnya definisi ini juga membuahkan perdebatan panjang mengenai makna belief, supernatural dan beings yang dianggap kurang jelas. Sementara Durkheim, sociologist Perancis, keturunan Jews, menyebut agama sebagai bagian dari structure, relative to sacred things. Yang menarik lagi, kelompok yang menganggap religion sebagai symbol of meaning. Di kelompok ini ada Geertz, Rappaport, Bloch and Asad.
Kurasa sederet teory semacam ini hampir-hampir tak bisa menyelesaikan masalah riil. Keterpecahan agama-agama. Bisa jadi karena agama sudah terlanjur diinstituasikan, sehingga agama lebih mudah terkotak. Ini dia kata anthopolog Melford Spiro’s. Dia menyebut agama sebagai institusi yang disusun oleh interaksi budaya dengan prinsip dasar superhuman (Lambek, 2007). Jadi kalau begitu akibat institusi yang dibentuk atas nama budaya ini, maka kita hidup dalam segregated pluralisme.
Waduh kok jadi serius gini nih nulisnya…. Ok kembali keinti persoalan. Bagiku jika atas nama institusi agama, orang merasa bahwa heaven hanya milik kelompoknya, aku membayangkan di surga pasti sepi banget. Yang kita temukan di surga ya hanya kelompok kita saja. Gak ada temen diskusi, gak ada temen yang mengajarkan toleransi pada kita. Uh...betul gak ya...? Wah ..jauh banget...mending mikirin dunia dulu gih...
Ok..kalau aku sih hanya bisa berharap, hidup kita di dunia ini damai, kita bersedia berbagai dunia dengan orang lain, termasuk bagi mereka yang beda agama sama kita. Kalau memang temen, saudara kita punya kepercayaan lain, termasuk sama ruh..biarin saja toh, selama gak gangguin kita.
Jangan sampai deh kita terjebak kotak term religion. Jika betul term religion muncul akibat pikiran para anthropologist (scientific word), buat apa kita ikutan bersitegang dengan saudara sendiri, biar para anthropologist yang saling mendebat teory mereka. Mending kita berbuat baik bagi semua orang.
(fideolelaan, 12.05, 19 September 2007)
Kamis, 20 September 2007
Rabu, 19 September 2007
Strippenkart..antara hemat dan dosa
Aku segera melipat kartu sptippenkart yang baru saja kubeli di KIOSK kampus VU, 6.8 euro (Rp.80.000). “Ini tambahan pos pengeluaran, sejak aku pindah ke Amsterdam”, kataku berhitung. “Sejak bolak-balik ke Amsterdam dan pada akhirnya mesti sekolah di VU, biaya transportasiku ternyata membengkak”, keluhku, “sementara uang beasiswaku gak naek”, lanjutku.
Bayangkan uang 6,8 euro, yang harusnya bisa menambah jatah penggemukan badan, harus kurelakan untuk membeli strippenkart. Bagiku kertas panjang ini menjadi bagian sejarah kelam yang menggelikan selama aku studi di Amsterdam. Wow...hi..hi..hi....:).
Iya nih...jujur...strippenkart bagiku adalah kartu pengaman, kartu kewaspadaan ketika aku naek bis/tram selama kuliah menuntut ilmu. Meski setiap hari aku menggunakan bis/tram, tapi aku jarang banget mensegel strippenkartku, artinya aku jarang bayar. Kata temen Belanda, ini dikategorikan Black driving. Terkadang aku membayar tapi tak sesuai dengan zone perjalananku. Agak-agak korupsi gitu deh. Nah yang beginian sama temenku disebut Grey Driving. Oleh karenanya, sebagai kartu pengaman. Jika suatu saat Controler dateng, aku siap dengan kartuku. Jadi tak kubiarkan, strippenkartku habis dan tertinggal. Setiap kali kartu ini habis, aku tetap membeli kartu ini, meski setengah hati.
Menurut aturan umum, 15 strippenkart yang kubeli 6,8 euro ini hanya bisa dipakai untuk perjalanan selama 4 kali PP dari kampusku ke dormitoryku. Tapi bagiku, kartu ini bisa kupakai lebih lama lagi, minimal 7 hari. Sejujurnya, aku jarang membayar bis/tram. Jikapun bayar aku hanya pasang satu strippenkart. Hi..hi..nakal juga ya...? Kupikir apa yang kulakukan ini juga banyak dilakukan oleh beberapa penumpang lain. Gak percaya... coba saja buktikan dan amati, jika anda berkesempatan datang kesini, namun jika tidak sempat, boleh saja ikuti hasil pengamatanku ini.
Ini dia hasil pengamatanku sejak dua minggu lalu. Ternyata banyak para penumpang yang tidak membayar bus/tram. Meski kuakui, bagi para penumpang yang gak bayar, ada kemungkinan lain yang terjadi seperti karena mereka memakai kartu langganan yang dibayar satu bulan di depan. Dan ternyata, kesadaran membayar bis/tram terjadi pada kelompok usia uzur. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tua.
Sebenarnya, system transportasi di Amsterdam ini bagus karena mengajarkan pada para penumpang untuk sadar diri. Gak perlu ada kondektur yang suka teriak-teriak minta uang pada penumpang. Kalau mau naik bis atau tram, cukup beli strippenkart dan segel strippenkartnya sesuai zone tujuan. Beres!.
Tapi kenyataannya tujuan baik ini, tetap saja disalahartikan oleh penumpang-penumpang nakal macem saya ini. Kalau saya pribadi menyebut tindakanku sebagai tantangan kewaspadaan. Sepanjang perjalanan bis/tram saya mesti berjaga-jaga jika tiba-tiba sang petugas datang. Karena jika penumpang-penumpang nakal ini lagi apes, ketahuan petugas pemeriksa, maka kita akan kena denda sejumlah 30 euro. Wuih sayang juga kan....?
Jadi doain saya selamat dan diampuni dosa saya, sampai pada akhirnya saya mendapat ilmu yang diridloi. Amien.
(Fideolilaan 562, Amstelveen)
Bayangkan uang 6,8 euro, yang harusnya bisa menambah jatah penggemukan badan, harus kurelakan untuk membeli strippenkart. Bagiku kertas panjang ini menjadi bagian sejarah kelam yang menggelikan selama aku studi di Amsterdam. Wow...hi..hi..hi....:).
Iya nih...jujur...strippenkart bagiku adalah kartu pengaman, kartu kewaspadaan ketika aku naek bis/tram selama kuliah menuntut ilmu. Meski setiap hari aku menggunakan bis/tram, tapi aku jarang banget mensegel strippenkartku, artinya aku jarang bayar. Kata temen Belanda, ini dikategorikan Black driving. Terkadang aku membayar tapi tak sesuai dengan zone perjalananku. Agak-agak korupsi gitu deh. Nah yang beginian sama temenku disebut Grey Driving. Oleh karenanya, sebagai kartu pengaman. Jika suatu saat Controler dateng, aku siap dengan kartuku. Jadi tak kubiarkan, strippenkartku habis dan tertinggal. Setiap kali kartu ini habis, aku tetap membeli kartu ini, meski setengah hati.
Menurut aturan umum, 15 strippenkart yang kubeli 6,8 euro ini hanya bisa dipakai untuk perjalanan selama 4 kali PP dari kampusku ke dormitoryku. Tapi bagiku, kartu ini bisa kupakai lebih lama lagi, minimal 7 hari. Sejujurnya, aku jarang membayar bis/tram. Jikapun bayar aku hanya pasang satu strippenkart. Hi..hi..nakal juga ya...? Kupikir apa yang kulakukan ini juga banyak dilakukan oleh beberapa penumpang lain. Gak percaya... coba saja buktikan dan amati, jika anda berkesempatan datang kesini, namun jika tidak sempat, boleh saja ikuti hasil pengamatanku ini.
Ini dia hasil pengamatanku sejak dua minggu lalu. Ternyata banyak para penumpang yang tidak membayar bus/tram. Meski kuakui, bagi para penumpang yang gak bayar, ada kemungkinan lain yang terjadi seperti karena mereka memakai kartu langganan yang dibayar satu bulan di depan. Dan ternyata, kesadaran membayar bis/tram terjadi pada kelompok usia uzur. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tua.
Sebenarnya, system transportasi di Amsterdam ini bagus karena mengajarkan pada para penumpang untuk sadar diri. Gak perlu ada kondektur yang suka teriak-teriak minta uang pada penumpang. Kalau mau naik bis atau tram, cukup beli strippenkart dan segel strippenkartnya sesuai zone tujuan. Beres!.
Tapi kenyataannya tujuan baik ini, tetap saja disalahartikan oleh penumpang-penumpang nakal macem saya ini. Kalau saya pribadi menyebut tindakanku sebagai tantangan kewaspadaan. Sepanjang perjalanan bis/tram saya mesti berjaga-jaga jika tiba-tiba sang petugas datang. Karena jika penumpang-penumpang nakal ini lagi apes, ketahuan petugas pemeriksa, maka kita akan kena denda sejumlah 30 euro. Wuih sayang juga kan....?
Jadi doain saya selamat dan diampuni dosa saya, sampai pada akhirnya saya mendapat ilmu yang diridloi. Amien.
(Fideolilaan 562, Amstelveen)
Rabu, 12 September 2007
Aku menjadi Aku
Disini jam 20.28 pm,
Di Amstelven ini, matahari mulai beranjak surut,
Namun tidak untuk belahan bumi yang lain,
Matahari masih akan setia melintasi jalannya
Tak henti dan tak lelah.
Dia tetap menjadi dirinya,
Meski dia tahu, sisi bumi yang lain menjadi gelap setelah ditinggalkannya
Pohon-pohon bergerak perlahan
Mengikuti irama puisi Sapardi yang telah diubah menjadi lantunan musik indah
Di balik tirai ini kupahami kesendirianku
Menghayati perjalananku di titik ini
Lalu kumengeluh tajam...
Bagaimana bisa kucinta kotamu
Jika dari awal kutemui ketidaksesuaian
Bagaimana kudamai disini
Jika dari awal kutemui ketidakdamaian
Melebur laksana curahan besi
Atau membakar besi menjadi curahan..
Kurasa ini bukan pilihan buat aku...
Karena kumau aku tetap disini,
sampai akhirnya aku harus pergi..
Kuingin aku menjadi aku, kataku lirih berbisik pada angin
(sudut kamar Fideolelaan, lantai 8, 19 agustus 2007)
Di Amstelven ini, matahari mulai beranjak surut,
Namun tidak untuk belahan bumi yang lain,
Matahari masih akan setia melintasi jalannya
Tak henti dan tak lelah.
Dia tetap menjadi dirinya,
Meski dia tahu, sisi bumi yang lain menjadi gelap setelah ditinggalkannya
Pohon-pohon bergerak perlahan
Mengikuti irama puisi Sapardi yang telah diubah menjadi lantunan musik indah
Di balik tirai ini kupahami kesendirianku
Menghayati perjalananku di titik ini
Lalu kumengeluh tajam...
Bagaimana bisa kucinta kotamu
Jika dari awal kutemui ketidaksesuaian
Bagaimana kudamai disini
Jika dari awal kutemui ketidakdamaian
Melebur laksana curahan besi
Atau membakar besi menjadi curahan..
Kurasa ini bukan pilihan buat aku...
Karena kumau aku tetap disini,
sampai akhirnya aku harus pergi..
Kuingin aku menjadi aku, kataku lirih berbisik pada angin
(sudut kamar Fideolelaan, lantai 8, 19 agustus 2007)
Belas Kasih....dan Kemahaan Kasih
18 Agustus 2007, kumulai hidupku di belantara indivualist di kota supermetropolitan, Amsterdam. Gedung-gedung modern dengan arsitek nyleneh, tram dan metro, jalur-jalur sepeda dan sungai-sungai membelah kota, menjadi ciri tersendiri. Memberi harapan baru, sekaligus keputusasaan.
Jam 15. 45, kuturunkan barang-barangku dari taksi yang mengantarku dari Maastricth, kota yang menawarkan kedamaian dan persaudaraan dinegeri orang. Di sini, di Amsterdam semua berubah. Tak kurang seperempat jam dari saat aku menjejakkan kaki di jalan theophilastraat, kutemui sisi indivualist kota ini.
Sejenak setelah kuturunkan semua barang-barang kami. Seorang perempuan, berperawakan kecil, yang juga landlord dari Pak Frid, kawan saya, memandangi barang-barang kami, yang menurut ukuran dia too much.., lalu tanpa mau tahu keadaan kami, dia lalu buru-buru menunjukkan ekspresi tidak suka. ”Whats…..!”, teriaknya, sambil tangannya dia memegang kepalanya. “Why Indonesian like to bring many stuffs?”, semprotnya.
Malangnya kawanku, ketika dia berniat baik menolong saya, malah dia kena semprot. Lalu buru-buru Frid menjelaskan, “ini barang kawan saya”, sambil dia menunjuk saya. ”Dia akan segera pergi dari sini, karena hujan, maka barangnya saya masukkan disini. Kami akan segera memesan taksi”, ujarnya menjelaskan. “Ok, saya akan panggil taksi segera” ujar si landlord tanpa ba bi bu.
Seketika lapar dan haus tak kurasakan. Makanan yang baru saja kubeli untuk Pak Frid, kutaruh begitu saja di trotoar. Mataku tak lepas memandangi Pak Frid. Mata yang melihatku dengan belas kasih. Namun kutahu tak ada yang bisa dia lakukan selain memasukkan segera seluruh barang-barangnya kedalam rumah. Perut laparkupun seketika lenyap. Berganti kepedihan dan ketidakmengertian tentang makna belas kasih.
Saat kumenunggu taksi, seorang perempuan Belanda setengah tua, berkata dengan bahasa Belanda yang tak kumengerti. Lalu kubilang ” sorry I cannot speak Dutch, I don’t understand what do you mean”. Seketika dia bilang “why do you look so sad? What happens with you?” tatapnya dengan kasih. Waktu itu aku hanya tersenyum tipis dan bilang “thank for your attention, I am Ok”.
Tak seberapa lama, taksi datang dan tanpa kepastian kutunjuk satu alamat di Fideolalaan. Sepanjang jalan kuhanya terdiam dan pasrah pada jalan Allah. Ternyata Tuhanku adalah Maha Kasih, tak lama setelah kupencet bel disalah satu flat, seorang perempuan setengah tua cantik menyambutku dengan ramah. Dan akhirnya dia sepakat menyewakan kamar mungilnya untuk aku.
Tuhanku yang Maha Kasih, Ar-rohman Ar-rokhim, sungguh hari ini aku mengerti Kemahaan Kasih MU. Bahwa Kasihmu tak terbatas. Kau ajarkan manusia untuk mengerti kasih tanpa pandang bulu. Hanya saja, manusialah yang terlalu picik menutup mata dan hatinya untuk saling mengasihi dan menjalankan Kasih yang telah Kau ajarkan pada kami. Terimakasih Allah, kau beri aku hari ini untuk mengerti KemahaanMu
(fideolalaan, Amstelven 19 Agustus 2007)
PS.
tulisan ini kubuat bulan agustus, tapi telat postingnya....
Jam 15. 45, kuturunkan barang-barangku dari taksi yang mengantarku dari Maastricth, kota yang menawarkan kedamaian dan persaudaraan dinegeri orang. Di sini, di Amsterdam semua berubah. Tak kurang seperempat jam dari saat aku menjejakkan kaki di jalan theophilastraat, kutemui sisi indivualist kota ini.
Sejenak setelah kuturunkan semua barang-barang kami. Seorang perempuan, berperawakan kecil, yang juga landlord dari Pak Frid, kawan saya, memandangi barang-barang kami, yang menurut ukuran dia too much.., lalu tanpa mau tahu keadaan kami, dia lalu buru-buru menunjukkan ekspresi tidak suka. ”Whats…..!”, teriaknya, sambil tangannya dia memegang kepalanya. “Why Indonesian like to bring many stuffs?”, semprotnya.
Malangnya kawanku, ketika dia berniat baik menolong saya, malah dia kena semprot. Lalu buru-buru Frid menjelaskan, “ini barang kawan saya”, sambil dia menunjuk saya. ”Dia akan segera pergi dari sini, karena hujan, maka barangnya saya masukkan disini. Kami akan segera memesan taksi”, ujarnya menjelaskan. “Ok, saya akan panggil taksi segera” ujar si landlord tanpa ba bi bu.
Seketika lapar dan haus tak kurasakan. Makanan yang baru saja kubeli untuk Pak Frid, kutaruh begitu saja di trotoar. Mataku tak lepas memandangi Pak Frid. Mata yang melihatku dengan belas kasih. Namun kutahu tak ada yang bisa dia lakukan selain memasukkan segera seluruh barang-barangnya kedalam rumah. Perut laparkupun seketika lenyap. Berganti kepedihan dan ketidakmengertian tentang makna belas kasih.
Saat kumenunggu taksi, seorang perempuan Belanda setengah tua, berkata dengan bahasa Belanda yang tak kumengerti. Lalu kubilang ” sorry I cannot speak Dutch, I don’t understand what do you mean”. Seketika dia bilang “why do you look so sad? What happens with you?” tatapnya dengan kasih. Waktu itu aku hanya tersenyum tipis dan bilang “thank for your attention, I am Ok”.
Tak seberapa lama, taksi datang dan tanpa kepastian kutunjuk satu alamat di Fideolalaan. Sepanjang jalan kuhanya terdiam dan pasrah pada jalan Allah. Ternyata Tuhanku adalah Maha Kasih, tak lama setelah kupencet bel disalah satu flat, seorang perempuan setengah tua cantik menyambutku dengan ramah. Dan akhirnya dia sepakat menyewakan kamar mungilnya untuk aku.
Tuhanku yang Maha Kasih, Ar-rohman Ar-rokhim, sungguh hari ini aku mengerti Kemahaan Kasih MU. Bahwa Kasihmu tak terbatas. Kau ajarkan manusia untuk mengerti kasih tanpa pandang bulu. Hanya saja, manusialah yang terlalu picik menutup mata dan hatinya untuk saling mengasihi dan menjalankan Kasih yang telah Kau ajarkan pada kami. Terimakasih Allah, kau beri aku hari ini untuk mengerti KemahaanMu
(fideolalaan, Amstelven 19 Agustus 2007)
PS.
tulisan ini kubuat bulan agustus, tapi telat postingnya....
Sabtu, 01 September 2007
Aku adalah PerempuanMu
Pujanggaku..sungguh berat hidupku jauh dari kasihmu. Rasanya onak dan duri mulai menyakitiku. Menusuk lengan dan kakiku, bahkan hatikupun mulai dilukainya. Kubayangkan..kau rawat lukaku dengan kasihmu, kau balut kesakitanku dengan cintamu...Kuingin katakan penderitanku, melalui kejujuranku, agar kau mengerti bahwa aku adalah perempuanmu.
(Fideolelaan, 1 September 2007)
Sekarang, dikesendirianku, kutulis bait kerinduanku melalui not-not komputer, yang juga terrenyuh menyaksikan kesendirianku. Kutak mau menghitung hariku, karena bagiku hariku adalah kesepianku. Penderitaanku.
Kekasihku...
kubertahan disini dengan luka kerinduan. Kata kita, "ini demi masa depan". Kekasihku..
kutahu kaupun merasakan hal yang sama. Kesendirian dan kerinduan yang makin menganga.
Sungguh jika boleh kupinta pada waktu..aku akan memintanya mengulang waktuku, ketika aku tak bersedia pertaruhkan hidupku disini, sendiri. Aku menikmati masa laluku, bersamamu, kekasihku. Meski tanpa suara, hati kita dekat. Ada kebahagian yang membuncah. Kebahagiaan orang Jawa yang "mangan ora mangan asal ngumpul".
Aku memang perempuan Jawa yang menikmati kesederhanaan cintamu. Kuingat masa lalu, ketika kita memulai merasa sesuatu yang beda dalam pertemanan kita, ketika rasa itu akhirnya berujud cinta yang jarang kau umbar. Namun kucoba memahami cinta dari seorang pujanggaku, yang akhirnya menitiskan Sekar-ku.
PS.
Salam buat LelakiKu...
(Fideolelaan, 1 September 2007)
Sekarang, dikesendirianku, kutulis bait kerinduanku melalui not-not komputer, yang juga terrenyuh menyaksikan kesendirianku. Kutak mau menghitung hariku, karena bagiku hariku adalah kesepianku. Penderitaanku.
Kekasihku...
kubertahan disini dengan luka kerinduan. Kata kita, "ini demi masa depan". Kekasihku..
kutahu kaupun merasakan hal yang sama. Kesendirian dan kerinduan yang makin menganga.
Sungguh jika boleh kupinta pada waktu..aku akan memintanya mengulang waktuku, ketika aku tak bersedia pertaruhkan hidupku disini, sendiri. Aku menikmati masa laluku, bersamamu, kekasihku. Meski tanpa suara, hati kita dekat. Ada kebahagian yang membuncah. Kebahagiaan orang Jawa yang "mangan ora mangan asal ngumpul".
Aku memang perempuan Jawa yang menikmati kesederhanaan cintamu. Kuingat masa lalu, ketika kita memulai merasa sesuatu yang beda dalam pertemanan kita, ketika rasa itu akhirnya berujud cinta yang jarang kau umbar. Namun kucoba memahami cinta dari seorang pujanggaku, yang akhirnya menitiskan Sekar-ku.
PS.
Salam buat LelakiKu...
Langganan:
Postingan (Atom)