Rabu, 12 September 2007

Belas Kasih....dan Kemahaan Kasih

18 Agustus 2007, kumulai hidupku di belantara indivualist di kota supermetropolitan, Amsterdam. Gedung-gedung modern dengan arsitek nyleneh, tram dan metro, jalur-jalur sepeda dan sungai-sungai membelah kota, menjadi ciri tersendiri. Memberi harapan baru, sekaligus keputusasaan.

Jam 15. 45, kuturunkan barang-barangku dari taksi yang mengantarku dari Maastricth, kota yang menawarkan kedamaian dan persaudaraan dinegeri orang. Di sini, di Amsterdam semua berubah. Tak kurang seperempat jam dari saat aku menjejakkan kaki di jalan theophilastraat, kutemui sisi indivualist kota ini.

Sejenak setelah kuturunkan semua barang-barang kami. Seorang perempuan, berperawakan kecil, yang juga landlord dari Pak Frid, kawan saya, memandangi barang-barang kami, yang menurut ukuran dia too much.., lalu tanpa mau tahu keadaan kami, dia lalu buru-buru menunjukkan ekspresi tidak suka. ”Whats…..!”, teriaknya, sambil tangannya dia memegang kepalanya. “Why Indonesian like to bring many stuffs?”, semprotnya.

Malangnya kawanku, ketika dia berniat baik menolong saya, malah dia kena semprot. Lalu buru-buru Frid menjelaskan, “ini barang kawan saya”, sambil dia menunjuk saya. ”Dia akan segera pergi dari sini, karena hujan, maka barangnya saya masukkan disini. Kami akan segera memesan taksi”, ujarnya menjelaskan. “Ok, saya akan panggil taksi segera” ujar si landlord tanpa ba bi bu.

Seketika lapar dan haus tak kurasakan. Makanan yang baru saja kubeli untuk Pak Frid, kutaruh begitu saja di trotoar. Mataku tak lepas memandangi Pak Frid. Mata yang melihatku dengan belas kasih. Namun kutahu tak ada yang bisa dia lakukan selain memasukkan segera seluruh barang-barangnya kedalam rumah. Perut laparkupun seketika lenyap. Berganti kepedihan dan ketidakmengertian tentang makna belas kasih.

Saat kumenunggu taksi, seorang perempuan Belanda setengah tua, berkata dengan bahasa Belanda yang tak kumengerti. Lalu kubilang ” sorry I cannot speak Dutch, I don’t understand what do you mean”. Seketika dia bilang “why do you look so sad? What happens with you?” tatapnya dengan kasih. Waktu itu aku hanya tersenyum tipis dan bilang “thank for your attention, I am Ok”.

Tak seberapa lama, taksi datang dan tanpa kepastian kutunjuk satu alamat di Fideolalaan. Sepanjang jalan kuhanya terdiam dan pasrah pada jalan Allah. Ternyata Tuhanku adalah Maha Kasih, tak lama setelah kupencet bel disalah satu flat, seorang perempuan setengah tua cantik menyambutku dengan ramah. Dan akhirnya dia sepakat menyewakan kamar mungilnya untuk aku.

Tuhanku yang Maha Kasih, Ar-rohman Ar-rokhim, sungguh hari ini aku mengerti Kemahaan Kasih MU. Bahwa Kasihmu tak terbatas. Kau ajarkan manusia untuk mengerti kasih tanpa pandang bulu. Hanya saja, manusialah yang terlalu picik menutup mata dan hatinya untuk saling mengasihi dan menjalankan Kasih yang telah Kau ajarkan pada kami. Terimakasih Allah, kau beri aku hari ini untuk mengerti KemahaanMu

(fideolalaan, Amstelven 19 Agustus 2007)

PS.
tulisan ini kubuat bulan agustus, tapi telat postingnya....

Tidak ada komentar: