Aku segera melipat kartu sptippenkart yang baru saja kubeli di KIOSK kampus VU, 6.8 euro (Rp.80.000). “Ini tambahan pos pengeluaran, sejak aku pindah ke Amsterdam”, kataku berhitung. “Sejak bolak-balik ke Amsterdam dan pada akhirnya mesti sekolah di VU, biaya transportasiku ternyata membengkak”, keluhku, “sementara uang beasiswaku gak naek”, lanjutku.
Bayangkan uang 6,8 euro, yang harusnya bisa menambah jatah penggemukan badan, harus kurelakan untuk membeli strippenkart. Bagiku kertas panjang ini menjadi bagian sejarah kelam yang menggelikan selama aku studi di Amsterdam. Wow...hi..hi..hi....:).
Iya nih...jujur...strippenkart bagiku adalah kartu pengaman, kartu kewaspadaan ketika aku naek bis/tram selama kuliah menuntut ilmu. Meski setiap hari aku menggunakan bis/tram, tapi aku jarang banget mensegel strippenkartku, artinya aku jarang bayar. Kata temen Belanda, ini dikategorikan Black driving. Terkadang aku membayar tapi tak sesuai dengan zone perjalananku. Agak-agak korupsi gitu deh. Nah yang beginian sama temenku disebut Grey Driving. Oleh karenanya, sebagai kartu pengaman. Jika suatu saat Controler dateng, aku siap dengan kartuku. Jadi tak kubiarkan, strippenkartku habis dan tertinggal. Setiap kali kartu ini habis, aku tetap membeli kartu ini, meski setengah hati.
Menurut aturan umum, 15 strippenkart yang kubeli 6,8 euro ini hanya bisa dipakai untuk perjalanan selama 4 kali PP dari kampusku ke dormitoryku. Tapi bagiku, kartu ini bisa kupakai lebih lama lagi, minimal 7 hari. Sejujurnya, aku jarang membayar bis/tram. Jikapun bayar aku hanya pasang satu strippenkart. Hi..hi..nakal juga ya...? Kupikir apa yang kulakukan ini juga banyak dilakukan oleh beberapa penumpang lain. Gak percaya... coba saja buktikan dan amati, jika anda berkesempatan datang kesini, namun jika tidak sempat, boleh saja ikuti hasil pengamatanku ini.
Ini dia hasil pengamatanku sejak dua minggu lalu. Ternyata banyak para penumpang yang tidak membayar bus/tram. Meski kuakui, bagi para penumpang yang gak bayar, ada kemungkinan lain yang terjadi seperti karena mereka memakai kartu langganan yang dibayar satu bulan di depan. Dan ternyata, kesadaran membayar bis/tram terjadi pada kelompok usia uzur. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tua.
Sebenarnya, system transportasi di Amsterdam ini bagus karena mengajarkan pada para penumpang untuk sadar diri. Gak perlu ada kondektur yang suka teriak-teriak minta uang pada penumpang. Kalau mau naik bis atau tram, cukup beli strippenkart dan segel strippenkartnya sesuai zone tujuan. Beres!.
Tapi kenyataannya tujuan baik ini, tetap saja disalahartikan oleh penumpang-penumpang nakal macem saya ini. Kalau saya pribadi menyebut tindakanku sebagai tantangan kewaspadaan. Sepanjang perjalanan bis/tram saya mesti berjaga-jaga jika tiba-tiba sang petugas datang. Karena jika penumpang-penumpang nakal ini lagi apes, ketahuan petugas pemeriksa, maka kita akan kena denda sejumlah 30 euro. Wuih sayang juga kan....?
Jadi doain saya selamat dan diampuni dosa saya, sampai pada akhirnya saya mendapat ilmu yang diridloi. Amien.
(Fideolilaan 562, Amstelveen)
Rabu, 19 September 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar