Kamis, 20 September 2007

Unbelievable....

Katanya disini orang tak percaya lagi ruh halus. Tapi faktanya... malam ini Tante, mengundang pendeta, beberapa jemaat dan anak laki-laki serta istrinya, datang melakukan ritual kecil pengusiran roh.

Sejak sore hari, aku merasa malam ini pasti ketenanganku akan terganggu, sehingga feelingku mengatakan, lebih baik jika aku keluar rumah. Tapi rencana itu tak berhasil. Aku tak punya tujuan. Jadi terpaksa aku berdiam diri di kamar kecilku.

Sejak kemarin, Tante sudah menyiapkan makanan buat tamu-tamunya. Sup buntut sudah dia rebus sejak kemarin. Kata tante, dia mau mengadakan pesta perkawinan untuk anak laki-lakinya. Tetapi beberapa keanehan mulai terasa olehku. Tante yang biasanya ngajak aku makan malam bareng, eh tiba-tiba mau mengadakan pesta, kok aku gak diundang. Terus anehnya lagi, putri bungsunya, juga tak ikut dalam acara ini, meski disore hari dia datang menjenguk sang mama.

Nah keanehan itu sedikit terjawab ketika di sore hari, Tante mengajakku omong tentang ruh, hantu dan berbagai pengalaman yang menurut dia aneh. Kemudian dengan halus dia mengatakan nanti malam akan ada doa untuk membersihkan hantu/ruh yang dipimpin seorang pendeta Indonesia. Tante bilang, mungkin karena rumah ini belum pernah diselamatkan, didoakan sejak pertama kali ia tinggal disini. Dia juga bertutur tentang sejarah rumah ini, yang dahulunya dihuni oleh orang Maroko, yang juga terkenal sebagai dukun. Ups...!

Hari menjelang malam, selepas aku berbuka puasa. Terdengar bel rumah dipencet tiga kali. Itu tandanya anaknya datang, kali ini ia datang bersama rombongan gereja. Sekedar info saja, tante dan anaknya adalah jemaat gereja evangelical yang berpusat di Amerika. Gereja ini sejak seratus tahun lalu, aktif mengadakan misionaris ke berbagai komunitas termasuk komunitas Kristen yang berbeda dominasi d Belanda. Dalam ibadahnya, gereja ini selalu menekankan keberadaan surga, neraka, devil dan enemy. Dan menurut paham mereka, hanya merekalah, yang masuk surga.

Sekitar satu jam pertama aku hanya berdiam diri di kamar, sementara mereka melakukan pembicaraan di ruang tamu. Hampir tanpa gangguan, kuteruskan aktifitas membacaku. Namun beberapa jam kemudian, tante Lineke mengundangku untuk bergabung. Demi menghormatinya, aku mengikuti dibelakangnya, bertemu dengan para tamu-tamunya. Disana aku langsung disambut oleh pendeta yang secara terus terang mengatakan tujuannya datang di rumah ini mengusir roh, karena tante sering diganggu, sekalian meminta ijin untuk memasuki kamarku. Membersihkan ruh dikamarku pula. Ups….! Apa boleh buat. Aku bilang saja, “ya silahkan, tapi kamarku berantakan lho…”

Sesaat kemudian aku dipersilahkan kembali kekamar. Langsung kuambil air wudlu untuk sholat magrib, karena memang aku belum sholat magrib. Sementara mereka, kembali melanjutkan pembicaraan dan melakukan doa per ruangan. Kata sang pendeta, dia akan mengetuk kamarku jika telah tiba gilirannya. Sesaat kemudian aku dengar mereka mulai berdoa, memanggil nama Jesus, menyanyikan haleluya, setengah berteriak. Sesekali mereka mengusir ruh. Pergi…pergi…. Aku mulai terganggu dengan suara mereka. Lalu kuambil laptopku dan kualunkan ayat suci alquran menggunakan head setku, menguatkan iman. Aku mulai terhanyut dengan lantunan ayat suci al quran. Aman dan damai.

Nah setelah beberapa ruangan didoakan yang dipimpin secara bergilir oleh jemaat. Tiba giliran kamarku. Kali ini agak istimewa. Sang pendeta sendiri yang memimpinnya. Sementara aku keluar kamar dan berdiri mengamati mereka. Sang pendetapun berdoa, dan doanyapun kali ini berbeda dengan doa yang dia panjatkan dibeberapa ruangan yang lain. Dimulai dengan menjejakkan kaki ketanah tiga kali, dia mulai berdoa dan bilang ”semua ruh yang didoakan bukan atas nama Jesus, pergi, kami ikat, juga kepercayaan lain selain Jesus atas nama agamawi lain, hinduism, budhism, islam. …..Giliran agamaku disebut, aku mulai sensi, tapi atas nama toleransi aku diam saja. Sambil tetap mengamati mereka. Sementara dalam hatiku, kusebut namamu Ya Allah.

Dititik ini, aku sungguh tak mengerti, bagaimana mungkin manusia terkotak atas nama agama. Sejak seminggu yang lalu, aku mulai mempertanyakan institusi ini. Diskusi dengan beberapa kawan, dan mengikuti kuliah anthropology agama, menawarkan pemikiran lain tentang term “religion”. Menurut Lambek, 2007, Religion sangat susah didefinisikan. Lambeks sendiri tidak bersedia mendefinikan agama, karena mendifiniskan agama juga berarti memaknai ketidakjelasan (definition is by no means obvious). Sementara beberapa anthropologist berusaha mendifinisikannya, misal Taylor’s menyebut agama sebagai “belief in supernatural beings”, meski pada akhirnya definisi ini juga membuahkan perdebatan panjang mengenai makna belief, supernatural dan beings yang dianggap kurang jelas. Sementara Durkheim, sociologist Perancis, keturunan Jews, menyebut agama sebagai bagian dari structure, relative to sacred things. Yang menarik lagi, kelompok yang menganggap religion sebagai symbol of meaning. Di kelompok ini ada Geertz, Rappaport, Bloch and Asad.
Kurasa sederet teory semacam ini hampir-hampir tak bisa menyelesaikan masalah riil. Keterpecahan agama-agama. Bisa jadi karena agama sudah terlanjur diinstituasikan, sehingga agama lebih mudah terkotak. Ini dia kata anthopolog Melford Spiro’s. Dia menyebut agama sebagai institusi yang disusun oleh interaksi budaya dengan prinsip dasar superhuman (Lambek, 2007). Jadi kalau begitu akibat institusi yang dibentuk atas nama budaya ini, maka kita hidup dalam segregated pluralisme.

Waduh kok jadi serius gini nih nulisnya…. Ok kembali keinti persoalan. Bagiku jika atas nama institusi agama, orang merasa bahwa heaven hanya milik kelompoknya, aku membayangkan di surga pasti sepi banget. Yang kita temukan di surga ya hanya kelompok kita saja. Gak ada temen diskusi, gak ada temen yang mengajarkan toleransi pada kita. Uh...betul gak ya...? Wah ..jauh banget...mending mikirin dunia dulu gih...
Ok..kalau aku sih hanya bisa berharap, hidup kita di dunia ini damai, kita bersedia berbagai dunia dengan orang lain, termasuk bagi mereka yang beda agama sama kita. Kalau memang temen, saudara kita punya kepercayaan lain, termasuk sama ruh..biarin saja toh, selama gak gangguin kita.
Jangan sampai deh kita terjebak kotak term religion. Jika betul term religion muncul akibat pikiran para anthropologist (scientific word), buat apa kita ikutan bersitegang dengan saudara sendiri, biar para anthropologist yang saling mendebat teory mereka. Mending kita berbuat baik bagi semua orang.
(fideolelaan, 12.05, 19 September 2007)

1 komentar:

amira paripurna mengatakan...

ini hanya komentar dari seorang yang sangat terbatas ilmunya dan hanya sedang selalu berusaha mengisi hidupnya untuk mencintai TUHANNYA....kata guru sejarahku waktu SMP dulu agama berasal dari bahasa sansekerta yang artinya A (tidak) Gama (rusak)jadi agama secara harfiah berarti "Tidak Rusak"....nah loh bearrti kalo ada orang yang mengaku menganut suatu agama,tapi malah "rusak" baik rusak secara personal maupun merusak kehidupan yang ada di bumi ini namanya bukan beragama....heheeh nyambung gak sih ini???(sungkan aku kasih komentar padan ahli interfaith dan antropolog ini...)
Tentang surga-neraka....aku jadi ingat salah satu syair yang dikarang oleh salah seorang sufi...yang intinya dia menolak adanya surga-neraka...karena itu membuat kecintaan dan motivasi beribadah tidak lagi Pada Tuhan...so selamat tinggal surga -neraka...janganlah berdagang dengan Tuhan (yang kita immani)dengan embel-embel menginginkan Surga Nya....hehehheeh