September 2005, aku menerima telepon dari IIEF Jakarta, yang mengabarkan bahwa aku adalah satu satu dari puluhan orang yang mendapat kesempatan beasiswa. Dari lebih dari empatpuluh ribu orang hanya tiga puluh lima yang terpilih dan aku satu diantaranya. Bangga sekaligus tak bisa dipercaya. Aku berteriak kegirangan. Berlari dari tiap rumah kerumah di kampoeng Percik, lalu kekabarkan berita bahagian ini ke suamiku, dan orangtuaku. Kebahagiaan yang membuncah. Disitulah aku merasakan kebahagiaan yang sementara.
Hari mulai berganti, begitu juga dengan kehidupanku. Aku mulai sering meninggalkan anakku. semula hanya seminggu sekali. September hingga April 2006, aku pulang pergi Jakarta Solo. Berbagi antara impian dan kebahagiaan sebagai seorang ibu. Anakku terkasih, mulai mengerti arti hidup tanpa Bunda. Kereta api eksekutif, bisnis, hingga ekonomi adalah temen baikku setiap Jumat malam dan Minggu malam. Sepanjang waktu itu, hanya target nilai yang ada dalam benakku, berkejaran dengan waktu menikmati hari bersama anakku.
Lalu tiba-tiba kehidupanku disadarkan ketika Bapakku terkasih meninggalkanku selama-lamanya dengan satu impian yang tertinggal "melihatku memasak". Disini arti "mimpi"mulai kupertanyakan. Ada kesadaran baru bahwa hidupku tak murni hanya untuk mengejar mimpi, bahwa ada Sekarku sayang, bahwa ada orang tua tercinta. Namun kesadaranku tak sepenuhnya terrajut. Kepergiannya tak mengubah mimpiku. Bahkan aku melanggar keinginan terakhirnya "melihat sekolah di Indonesia, tidak di negeri Belanda".
14 April 2006, Malaysia airline menerbangkanku jauh dari Sekarku. Di Cengkareng, isak tangis tak terbendung, Ibuku, bapak mertua, ibu mertua, suami dan anak perempuanku mengantarku terbang mengejar mimpiku. Namun pilihan itu tak mungkin digugurkan. Aku harus berangkat. Lalu di Kuala Lumpur, hatiku beku.
16 April 2006, diawal musim summer, meski matahari bersinar cerah, Belanda tetap dingin bagi orang tropik macam aku. Tiga bulan pertama, tangis adalah keseharianku, Berat badanku turun drastis. Dan akupun mulai menerawang mempertanyakan mimpiku. Di Maastricth berangkat pagi pulang sore belajar bahasa inggris, mulai membuatku lelah dan terseok. Target nilai adalah konsekuensi atas realita mimpi sekolahku. Namun sejatinya impian berkumpul dengan suami dan Sekarku disini adalah impian utamaku. Target nilai kujalani dengan seadanya. Tapi toh akhirnya aku berhasil juga diterima di Vrije University Amsterdam, meski terseok-seok.
17 Agustus, diakhir musim summer, aku mulai berkutat dengan buku-buku anthropology. Disepanjang waktu itu, impian berkumpul dengan anak dan suamiku disini mulai terkikis oleh berragam kesulitan. Semua jalan yang semua terlihat terang, kembali redup, bahkan akhirnya menjauh.
Summer mulai berlalu, diganti musim gugur yang dingin dan unpredictable. terkadang hujan, terkadang matahari bersinar cerah, namun tiba-tiba datang hujan es (healing). Tubuhku mulai mengerti artinya bertahan dan beradaptasi dari cuaca yang tak menentu ini. Sementara mimpiku menjadi seorang anthropolog, tetap kukejar tertatih-tatih dengan bertumpuk buku-buku teori. Anakkupun, mulai membaca situasi. Dia mulai mengerti pergantian musim. Dimana sang Bunda, hanya bisa dijumpai lewat suara, tanpa pelukan. Suamiku, yang semula mendukungku dengan suara bulat, mulai mengerti konsekuensi atas dukungannya. dan iapun mulai sibuk dengan impian barunya.
Ya..musim memang sudah berlalu... menyadarkanku untuk mengerti dimana sejatinya letak mimpiku.
(amstelveen, 15.06)
Sabtu, 10 November 2007
Pesan Buat Matahari Kecilku
Sayang...hari ini kegelisahanku kembali membayangiku. Memikirkan kehidupanmu tanpaku. Tapi semestinya itu tidak kulakukan karena engkau adalah titipanNya. Ada yang lebih berhak dariku. Dia adalah Tuhan.
Matahari kecilku, lelaplah tidur nak. Esok engkau akan kembali menyinari kehidupanku. Mungkin kau mulai lelah menunggu kedatanganku, tapi dengarlah suara hatimu, bahwa aku dekat denganmu. Sangat dekat, tak berjarak.
Berkatalah dengan hati kita sayang. Lalu buang kerisauanmu, dan jangan takut melangkah karena engkau dijaga Sang Hidup. KepadaNyalah kutitipkan engkau. Bermainlah esok sayang, dan yakinlah cintaNya lebih agung dan mulia dari sekedar cintaku disini.
Sayang...kau adalah matahari kecilku...dan akan selalu begitu. Engkau memberiku semangat untuk terus mendekatimu. Jadi jangan risau sayang, itu adalah hukum alam, dimana aku terikat erat dalam kehidupanmu.
Kepada Sang Maha Penjaga,
Atas nama kemahaanMu, kuserahkan matahari kecilku. Diatas kesadaran posessif kemanusiaanku, kutitipkan ia padaMu.
Disini sesungguhnya kusadar ketidakmampuanku. Aku yang naif dan merasa memiliki hidup atas matahari kecilku. Namun sekarang kemahaanMu menyadarkanku.
Kepada Sang Maha Pelindung
Setelah kutitipkan matahari kecilku. Lindungi dan Jagalah dia seperti kau lindungi dan kau jaga kekasihMu. Dan ijinkan aku kembali memeluk matahari kecilku suatu hari nanti.
(amstelveen, Amsterdam, 14.19)
Matahari kecilku, lelaplah tidur nak. Esok engkau akan kembali menyinari kehidupanku. Mungkin kau mulai lelah menunggu kedatanganku, tapi dengarlah suara hatimu, bahwa aku dekat denganmu. Sangat dekat, tak berjarak.
Berkatalah dengan hati kita sayang. Lalu buang kerisauanmu, dan jangan takut melangkah karena engkau dijaga Sang Hidup. KepadaNyalah kutitipkan engkau. Bermainlah esok sayang, dan yakinlah cintaNya lebih agung dan mulia dari sekedar cintaku disini.
Sayang...kau adalah matahari kecilku...dan akan selalu begitu. Engkau memberiku semangat untuk terus mendekatimu. Jadi jangan risau sayang, itu adalah hukum alam, dimana aku terikat erat dalam kehidupanmu.
Kepada Sang Maha Penjaga,
Atas nama kemahaanMu, kuserahkan matahari kecilku. Diatas kesadaran posessif kemanusiaanku, kutitipkan ia padaMu.
Disini sesungguhnya kusadar ketidakmampuanku. Aku yang naif dan merasa memiliki hidup atas matahari kecilku. Namun sekarang kemahaanMu menyadarkanku.
Kepada Sang Maha Pelindung
Setelah kutitipkan matahari kecilku. Lindungi dan Jagalah dia seperti kau lindungi dan kau jaga kekasihMu. Dan ijinkan aku kembali memeluk matahari kecilku suatu hari nanti.
(amstelveen, Amsterdam, 14.19)
Selasa, 06 November 2007
Mothers feeling
Untuk semua,
Terima kasih atas semua dukungan, do'a, support yang sudah kalian berikan. Cobaan ini terlalu berat, aku seperti menyaksikan kematianku sendiri, terbang beribu mil jauhnya, hanya untuk menyaksikan tubuh mungil yang di balut kain putih dalam waktu hanya 5 menit, karena dia harus dikuburkan, dia lelah menunggu kedatanganku yang berjam2.
Ya Allah, aku belum mampu memaknai apa yang kau berikan untukku saat ini. Andai waktu bisa kembali, tapi waktu memang tidak akan pernah bisa kembali. terima kasih untuk seluruh yang sudah kalian berikan.
Mar
sebuah email yang dikirim oleh kawanku telah membuka hariku di amstelveen (7/11/07). Email itu dia forward ke email pribadiku. Membuat seluruh tulang penyangga tubuhku luruh, dilorot satu persatu. Tak bisa mendukung tubuhku untuk berdiri. Sementara akalku, melayang ke belahan bumi lain di Indo, dimana anak perempuanku tertidur bersama ayah tercinta. Silih berganti dengan bayang kematian yang ditulis oleh sahabat saya, Mar.
Sebagai seorang bunda, hatiku menjadi beku melihat keterpisahanku bersama anakku hanya karena mimpi. "Bull shit about mimpi !! Ratapku keras dalam hati. Anak adalah jiwa buat bunda. Bagaimana mungkin dia tergantikan oleh impian duniawi yang sementara.
"kamu tahu yan.." hatiku berkata, "änak adalah hakiket hidup seorang Ibu. Benar...bahwa Ibu pernah menjadi "media" hidup bagi seorang anak selama sembilan bulan. Tapi anak memberi kehidupan lebih lama buat kita. Dia akan hidup terus dalam hati kita. Karena dia lebih dekat dengan kesucian Tuhan.
Kamis, 01 November 2007
I live My Life for You by Firehouse
This song I dedicated to my Soul Mate
You know you're everything to me and I could never see
The two of us apart
And you know I give myself to you and no matter what you do
I promise you my heart
I've built my world around you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before
I live my life for you
I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you
I dedicate my life to you, you know that I would die for you
But our love would last forever
And I will always be with you and there is nothing we can't do
As long as we're together
I just can't live without you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before
I live my life for you I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you
I've built my world around you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before
I live my life for you
I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you
You know you're everything to me and I could never see
The two of us apart
And you know I give myself to you and no matter what you do
I promise you my heart
I've built my world around you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before
I live my life for you
I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you
I dedicate my life to you, you know that I would die for you
But our love would last forever
And I will always be with you and there is nothing we can't do
As long as we're together
I just can't live without you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before
I live my life for you I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you
I've built my world around you and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before
I live my life for you
I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you
Langganan:
Postingan (Atom)