Selasa, 06 November 2007

Mothers feeling

Untuk semua,
Terima kasih atas semua dukungan, do'a, support yang sudah kalian berikan. Cobaan ini terlalu berat, aku seperti menyaksikan kematianku sendiri, terbang beribu mil jauhnya, hanya untuk menyaksikan tubuh mungil yang di balut kain putih dalam waktu hanya 5 menit, karena dia harus dikuburkan, dia lelah menunggu kedatanganku yang berjam2.
Ya Allah, aku belum mampu memaknai apa yang kau berikan untukku saat ini. Andai waktu bisa kembali, tapi waktu memang tidak akan pernah bisa kembali. terima kasih untuk seluruh yang sudah kalian berikan.
Mar
sebuah email yang dikirim oleh kawanku telah membuka hariku di amstelveen (7/11/07). Email itu dia forward ke email pribadiku. Membuat seluruh tulang penyangga tubuhku luruh, dilorot satu persatu. Tak bisa mendukung tubuhku untuk berdiri. Sementara akalku, melayang ke belahan bumi lain di Indo, dimana anak perempuanku tertidur bersama ayah tercinta. Silih berganti dengan bayang kematian yang ditulis oleh sahabat saya, Mar.
Sebagai seorang bunda, hatiku menjadi beku melihat keterpisahanku bersama anakku hanya karena mimpi. "Bull shit about mimpi !! Ratapku keras dalam hati. Anak adalah jiwa buat bunda. Bagaimana mungkin dia tergantikan oleh impian duniawi yang sementara.
"kamu tahu yan.." hatiku berkata, "änak adalah hakiket hidup seorang Ibu. Benar...bahwa Ibu pernah menjadi "media" hidup bagi seorang anak selama sembilan bulan. Tapi anak memberi kehidupan lebih lama buat kita. Dia akan hidup terus dalam hati kita. Karena dia lebih dekat dengan kesucian Tuhan.

Tidak ada komentar: