Pagi ini sarapanku Lasagna,makanan orang bule yang mulai kuakrabi sejak empat bulan lalu. Dan kemarin, aku ber-holiday di Paris, mengunjungi Si Menara besi Eiffel, makam Si Napoleon dan di Musium La Pyramide du Lauvre, dimana senyum manis si La Joconde diserbu ribuan orang bak bintang film.
Ini benar-benar kenyataan yang membuatku seolah tak habis mengerti. Aku, perempuan yang tak lagi muda, yang terlahir dari sebuah kota kecil di belahan gunung Sindoro Sumbing, yang terlahir dari keluarga miskin, dari Mamak dan Bapak yang cuman pedagang baju rombeng dan pesuruh kantor P Dan K. Jika bukan karena keberuntungan pasti tak pernah aku berada di sini sekarang. Rencana Allah-lah yang menjadikanku disini. Mengingatku untuk selalu mencuci hatiku.
Saat kutiti tangga Eifel, kembali kumengingatkan kehidupanku, dan kuumpamakan seperti titian tangga ini. Bahwa akan tiba saat aku harus kembali turun dari ketinggian dan memulai perjalanan baru. Kata-kata agung saat aku mendaki jajaran gunung di Jawa kembali menggaung "aku mendaki bukan untuk mencari kebanggaan, aku mendaki untuk mencari jati diri".
Ketinggian Eiffle harus dilalui. Perjalanan baru ke Musium De Louvre harus dilewati dengan cukup melelahkan, karena beberapa kali aku dan teman terpaksa bertanya arah peta. Sesampai di kaca piramid, tempat ribuan turis berfoto dan mengagumi karya sang arsitect, lalu kubayar 9 euro (lebih dari seratus ribu rupiah) buat melihat senyum si Mona Lisa. Sesampai di dalam, sambil terpaku kumelihat bertumpuknya orang di sel no 6, tempat si Mona Lisa diserbu Paparazi dadakan. Gila Mak...orang yang berkunjung disini hanya terpaku melihat lukisan imajinatif dari Leonardo Da Vinci, aku cuma melirik senyum si Mona yang bagiku lebih terasa senyum mengejek. Menertawakan keberadaanku. Sebentar, kuambil potret setelah berusaha menyelipkan tubuhku diantara tubuh-tubuh besar orang bule dan china yang berduit, dan kutinggalkan kerumunan itu.
Sambil duduk istirahat, aku kembali pada kehidupan paradoksal yang kualami. Perjalanan sekarang laksana kehidupan Mahayana. Tempat-tempat yang semula kukenal melalui dunia informasi, sekarang menjadi bagian dari dunia riilku.
Holiday yang semestinya membuahkan kebahagiaan, sejatinya hanya fatamorgana bagiku. Sepi diantara keramaian, senyuman diatas kepedihan. Kok bisa ya...?. Orang bilang tak ada kebahagiaan yang sempurna..jadi gak masalah toh kalau holiday yang kulewati itu tidak begitu sempurna. Justru permasalahnya terletak pada caraku menghayati perjalanan dan menghayati keindahan kota Paris. Di titik ini perjalanan kemarin belum menemukan keindahan hati seindah kota Paris. Mungkin suatu kali....Bersamamu Sang Dewi...
(Maastricth, 12 agustus 2007).
Minggu, 12 Agustus 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar